DIY Editor : Danar Widiyanto Selasa, 21 Mei 2019 / 16:30 WIB

5 Uskup Pimpin Misa Peresmian Goa Maria Tritis

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Lima uskup memimpin prosesi ibadat jalan salib di  Gua Maria Tritis, Dusun Singkil, Giring, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, Senin (20/5/2019) malam. Prosesi ibadat jalan salib dengan menempuh perjalanan satu kilometer melintas perbukitan karst khas  dilanjutkan ekaristi syukur peresmiannya pembangunan beberapa fasilitas  tempat  ziarah umat Katolik di Gua Maria Tritis. Pembangunan fasilitas seperti akses baru jalan salib, 14 tempat  pemberhentian, bangunan aula dan  ruang transit.

Ke lima uskup  yang hadir dalam acara peresmian ini yakni Monsinyur Rubyatmoko dari  Keuskupan Agung Semarang (KAS), Uskup Bali Monsinyur San, Uskup Purwokerto Monsinyur Tri Harsana, Uskup Bandung  Monsinyur Antonius Subianto Bunjamin, Uskup Pontianak Monsinyur Agustinus Agus  dan  enam pastor yang bertugas di tiga Gereja Paroki di Kabupaten Gunungkidul diikuti hampir dua ribu perwakilan umat katolik di Gunungkidul. Misa syukur juga dihadiri peziarah   dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bogor, Jawa Tengah, Bandung dan Bali turut hadir mengikuti ekaristi berlangsung di dalam gua karst yang masih asri.

Uskup Keuskupan Agung Semarang, Monsinyur Rubiyatmoko dalam kotbahnya  menegaskan, esensi iman katolik akan tempat peziarahan seperti Taman doa, Sendang Maria, atau Gua Maria akrab bagi umat katolik. Menurutnya, Gua Maria menjadi tempat meneguhkan iman akan Tuhan Yang Maha Esa. Juga kepada  Bunda Maria yang menjadi   teladan konkret bagi umat katolik.Dari kerelaan Maria sebagai pribadi  bunda Yesus Kristus,  kesetiaan Maria dalam mendampingi membesarkan Yesus hingga kesetiaan Maria tetap berada dekat dengan putranya saat menghadapi kesengsaraan di kayu Salib.

“Kita datang ke tempat peziarahan untuk  berdoa mohon kepada  Tuhan Yang Maha Esa   agar semakin memperdalam iman kristiani yang penuh kasih," ujarnya.

Uskup menilai tepat nama Gua Maria di Desa  Singkil, Giring, Paliyan, Gunungkidul  ini sebagai  tempat menumpahkan berbagai harapan baik bagi umat dan dunia. Untuk itulah tempat peziarahan Bunda Maria syarat dengan tempat yang aman, teduh, nyaman, tenang, damai dan penuh kegembiraan.  Untuk itulah tempat peziarahan Bunda Maria selalu dikaitkan dengan jalan salib  sembari mengajak umat katolik merawat gua di  perbukitan karst di Gunungkidul tersebut.

“Rawat dan jadikanlah tempat ini untuk menyampaikan doa kepada Tuhan untuk sesama dan dunia,” ucapnya.

Komunitas Paguyuban Emmaus, Herman didampingi FX Endro Guntoro SIP dari Paroki Wonosari  mengapresiasi berbagai pihak yang telah menyumbangkan tenaga, waktu dan bantuan  atas terwujudnya pembangunan fasilitas yang diharapkan oleh  umat. Pembangunan fasilitas  ini  dinilai  paling besar dan prosesnya juga panjang tidak sekadar membangun fisik, tetapi dari pembebasan lahan, sampai proses sertifikat pengalihan hak atas tanah  atas  kasadaran umat dan warga setempat.(Bmp)