Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 20 Mei 2019 / 21:32 WIB

Pimpin Upacara Harkitnas di Malang, Ini Pesan Mendikbud


MALANG, KRJOGJA.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menjadi inspektur upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-111 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 kota Malang, Jawa Timur, Senin (20/5). Upacara diikuti oleh perwakilan siswa, guru, dan kepala sekolah dari beberapa SMP di kota Malang. 

Dalam sambutannya, Mendikbud berpesan agar seluruh pihak turut memelihara semangat persatuan dan kesatuan demi kemajuan bangsa Indonesia. 

"Saya sangat bangga dengan kalian semua. Inilah Indonesia. Mencerminkan suasana keanekaragaman, aneka ragam, akan tetapi di dalam hatinya sama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia," 
dikatakan Mendikbud Muhadjir Effendy kepada para peserta upacara yang mengenakan pakaian adat dan tradisional dari berbagai daerah di tanah air. 

Mendikbud kembali mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat tergantung kepada pembentukan karakter anak bangsa. Ia berpesan agar para pendidik dapat memberikan kesempatan setiap anak didik untuk dapat berkontribusi dalam berbagai kegiatan positif yang ada di sekolah. 

"Anak SMP itu ibarat baja yang sedang dipanaskan. Saat itulah untuk dibentuk menjadi apapun. Bisa menjadi senjata, bisa menjadi peralatan, apapun. Dan itu tugas bapak ibu guru dan kepala sekolah untuk mengarahkan para siswa kita," ujar Muhadjir. 

"Pendidikan karakter itu bukan diceramahkan. Tetapi dilakukan, dipraktikkan, dipanggungkan. Anak-anak diberi kesempatan untuk berperan," tambahnya. 

Tak lupa Guru Besar Universitas Negeri Malang itu mengingatkan para pendidik agar dapat menanamkan semangat nasionalisme kepada para siswa. Hal ini dirasa sangat penting dalam menghadapi tantangan pembentukan generasi muda yang semakin berat dan kompleks. Khususnya terkait ideologi yang bertentangan dengan dasar negara Pancasila. 

Dalam menyikapi kenakalan remaja yang menyebabkan siswa melakukan tindakan tidak terpuji, Mendikbud berharap para pendidik dapat melakukan pendekatan yang bijak. "Ada 56 juta siswa kita, tidak sampai satu persennya yang melakukan tindakan tidak terpuji itu. Jangan 'digebyah uyah' disamaratakan semuanya seperti itu," ujarnya. (Ati)