DIY Editor : Ivan Aditya Senin, 20 Mei 2019 / 17:47 WIB

Polarisasi Politik Jangan Rusak Keutuhan NKRI

BANTUL, KRJOGJA.com - Diskusi dalam rangka refleksi 21 tahun gerakan feformasi bertema ‘Melanjutkan Tugas Kebangsaan Kita’ digelar di Kampung Mataraman Desa Panggungharjo Sewon Bantul, Senin (20/05/2019) sore. Dalam diskusi itu menghadirkan narasumber yang mayoritas  mantan aktivis mahasiswa lintas kampus diantaranya Noor Janis Langga Barana (ISI), Ari Sujito (UGM), Supriyanto (UII), Abdul Rozaki (UIN Sunan Kalijaga), Heri Sebayang (UJB) serta Iranda Yudhatama (UPN Veteran) dengan moderator Widihasto Wasana Putra (UAJY).

Noor Janis mengatakan ada tiga urgensi dalam diskusi refleksi gerakan reformasi 1998 tersebut, yakni pengingat sejarah bahwa penyalahgunaan kekuasaan rezim Soeharto yang pernah membuat bangsa Indonesia mengalami keterpurukan. Era itu pada akhirnya memunculkan krisis ekonomi hingga kekacuan dalam politik.

“Poin kedua dari acara ini ialah dispora aktivis gerakan mahasiswa 1998 telah tersebar di banyak aspek kehidupan, baik di ranah parlementarian, pemerintahan, dunia pendidikan, hukum, seni-budaya, kewirausahaan dan sebagainya,” jelasnya.

Noor Janis menjelaskan, urgensi ketiga merupakan sebuah respon situasi politik kekinian khususnya paska pemilu 2019. Ekponen 1998 mengingatkan, jika pemilu sekadar salah satu instrumen demokrasi, sehingga perbedaan pilihan politik adalah keniscayaan.

Polarisasi politik yang berpotensi mengancam keutuhan NKRI tidak semestinya terjadi. Sehingga semua pihak dituntut memiliki integritas kuat dan komitmen tinggi untuk tunduk dan patuh pada aturan perundangan dan konstitusi.
Sementara itu Ari Sujito mengungkapkan justru menggarisbawahi bahwa demokrasi sebagai fragmentasi politik. Gerakan reformasi tahun 1998 jadi tonggak sejarah, tetapi bukan hanya murni saat itu, tetapi adalah akumulasi dari berbagai persoalan tahun tahun sebelumnya.

Sementara itu, pendidikan di kampus sekarang ini terlalu teknokratis dan condong ke industrialisasi. Terjadinya disorientasi kampus tidak bisa dihindari karena perubahan cara pandang mahasiswa.

Muncul kecenderungan mahasiswa sekarang lebih mudah menterjemahkan isu-isu agama ketimbang studi lebih dalam tentang sistim demokrasi. Sedang Heri Sebayang mengungkapkan, jika gerakan mahasiswa tahun 1998 mengikuti hati nuraninya. (Roy)