Gaya Hidup Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 21 Mei 2019 / 04:14 WIB

Upaya Stop Merokok, Dibutuhkan Penelitian Lokal

INOVASI teknologi terus dikembangkan untuk membantu masyarakat memiliki hidup yang lebih sehat, termasuk untuk berhenti merokok. Anggota Dewan Penasihat Himpunan Peneliti Indonesia (HIMPENINDO) yang juga merupakan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Erman Aminullah M.Sc mengatakan inovasi teknologi yang dihadirkan oleh produk alternatif seperti rokok elektrik dapat menjadi solusi untuk mengurangi angka perokok di Indonesia.

"Pengembangan teknologi yang terdapat dalam produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik mengeliminasi tar sebagai senyawa paling berbahaya pada rokok, sehingga risiko kesehatannya menjadi jauh lebih rendah. Dilihat dari sudut pandang teknologi disruptif, inovasi ini dapat berpotensi mengubah pola kecenderungan konsumsi dari produk tembakau konvensional ke produk yang jauh lebih rendah risiko,” ungkap Erman.

Namun, terlepas dari inovasi teknologi yang ditawarkan, penerimaan publik terhadap rokok elektrik dan pengembangan teknologi kesehatan lainnya bukanlah hal yang sederhana. Dosen senior Global Health, Development, Environment and Pharmaceutical Industry di University of Derby, Inggris Dono Widiatmoko mengatakan bahwa meninjau pengembangan teknologi baru dalam kesehatan terutama di negara berkembang seperti Indonesia merupakan hal yang sangat kompleks.

“Untuk mencapai manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, penilaian yang menyeluruh dan objektif terhadap pengembangan teknologi baru dalam layanan kesehatan sangatlah dibutuhkan. Jangkauan dampaknya terhadap baik pasien, masyarakat, sistem kesehatan, maupun ekonomi harus menjadi bahan peninjauan. Meskipun suatu intervensi baru dalam layanan kesehatan pasti menimbulkan kontroversi, pembuktian ilmiah yang komprehensif perlu didiskusikan secara terbuka dan dewasa,” jelas Dono.

Inovasi teknologi yang dikembangkan untuk membantu perokok berhenti pun tidak terlepas dari kerumitan ini. Meskipun telah banyak penelitian tentang rokok elektrik yang dilakukan di tingkat global, publik masih cenderung mengabaikan temuan-temuannya dan mendesak dilakukannya penelitian secara lokal.  Namun pada saat bersamaan, belum tampak adanya upaya atau keinginan baik dari pemerintah maupun lembaga penelitian untuk mencari jawaban dari perdebatan tentang rokok elektrik dengan melakukan penelitian dalam konteks lokal di Indonesia.

Prof. Dr. Erman mengatakan, “Layaknya inovasi teknologi lainnya, penerimaan publik terhadap inovasi ini (rokok elektrik) masih menghadapi banyak tantangan, apalagi dengan sudah terbiasanya masyarakat dengan konsumsi tembakau konvensional dan tidak memahami perbedaan antara rokok konvensional dengan produk alternatif.” (*)