Ragam Editor : Agus Sigit Selasa, 21 Mei 2019 / 18:30 WIB

Dibayari Sundel Bolong, Kapok Narik Becak Lagi

SUDAH seharian Mas Gucil (nama samaran) tidak narik becak. Katanya lagi sepi penumpang. Mau apalagi. Akhirnya ia pergi ke musala terdekat untuk beristirahat sambil menunggu tiba saat salat. Padahal Mas Gucil harus menghidupi keluarganya. Prinsipnya pantang pulang jika belum mengantongi uang. Mas Gucil tidak mau istrinya berang gara-gara dirinya tidak membawa uang. Selama ini, jika pulang tanpa membawa uang, maka …”krompyang…” barang-barang akan ditendang istrinya.

Seperti dikutip dari Harianmerapi.com, dia pun salat Magrib di musala, memanjatkan doa agar secepatnya mendapat penumpang supaya bisa pulang membawa uang berapapun. Yang penting ada uang di saku bajunya. Begitulah doa selalu dipanjatkan saat habis sholat di musala itu.
Tleser-tleser, Mas Gucil mengayuh becaknya. Tidak cepat karena berharap ada penumpang yang nyegat. Benar juga, baru tiga ayunan kakinya menggenjot pedal becak, ada lambaian tangan dan sapaan dari seorang wanita di seberang jalan.

Wanita berambut panjang berbaju putih tersebut segera naik becak. Bau harum parfum yang dikenakan wanita tersebut menusuk hidung mas Gucil. Namun dia tidak protes malah senang. Mas Gucil sampai lupa menanyakan hendak kemana. Ia asal menggenjot pedal becaknya dan jalan pelan-pelan mengikuti jalan beraspal.

Keduanya saling membisu. Tak ada percakapan Mas Gucil dengan penumpangnya. Tampaknya malam telah larut namun Mas Gucil tak merasakan lelah sedikitpun meski sudah lama menggenjot becaknya. Saat suasana agak sepi, si penumpang memberi aba-aba agar berhenti.

Wanita tersebut tanpa bicara langsung memberi uang cukup. Mas Gucil senang bukan kepalang, karena bakal bisa membahagiakan istrinya di rumah. Namun hanya sesaat, karena kemudian Mas Gucil didera ketakutan teramat sangat. Sekilas ia melihat penumpang misterius tadi punggungnya berlubang. Wajahnya berdarah dan tidak secantik seperti saat melambaikan tangan tadi.

Seketika itu Mas Gucil rebah tak sadarkan diri. Ia baru ditemukan oleh peronda menjelang pagi. Posisinya Mas Gucil dan becaknya berada di atas makam gadis yang meninggal belum lama.

Oleh peronda Mas Gucil diantar pulang. Sampai di rumah, setumpuk uang dari penumpang misterius diberikan pada istrinya. Semula istrinya mau marah, melihat uang langsung tersenyum sekalipun heran suaminya bisa bawa uang sebanyak itu. Mas Gucil kemudian menyarankan istrinya menggunakan uang itu untuk modal jualan di rumah. Sedang Mas Gucil sendiri berjanji tak akan narik becak lagi. Tugas utamanya mengantar istri ke pasar untuk belanja. Sejak saat itu Mas Gucil juga takut keluar malam. (Wijaya Heru Santosa)