Jateng Editor : Danar Widiyanto Senin, 20 Mei 2019 / 02:50 WIB

Bakal Ada 'People Power', Pasukan Berani Mati Dihidupkan Lagi

SEMARANG, KRJOGJA.com - Ingat Pasukan Berani Mati (PBM) yang memadati Jakarta di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid? Ya, pasukan yang dibentuk dan dipimpinan Dr KH Nuril Arifin MBA ini akan dibangkitkan kembali oleh putranya, Gus Ova sebagai pewaris Pondok Pesantren Soko Tunggal Semarang.

"Sebenarnya pasukan berani mati yang dulu membela Gus Dur ketika mau dilengserkan itu belum bubar, namun hanya kembali ke asalnya masing-masing, termasuk ada di pondok-pondok pesantren. Kini setelah Abah (Gus Nuril) membuat Patriot Garuda Nusantara (PGN) banyak anggota dan simpatisan PBM melebur dalam PGN. Kini eksistensi PBM kami bangkitkan lagi dalam wadah PGN dalam rangka ikut mengamankan dan menjaga NKRI menghadapi potensi ancaman dari dalam", tegas Gus Ova, Minggu (19/5/2019) di Ponpes Soko Tunggal, Sendangguwo Semarang disela melakukan penggemblengan mental dan spiritual anggota PGN.

Ada sekitar 30 anggota PGN yang mengikuti gemblengan dipimpin Gus Ova dan beberapa pengasuh ponpes tersebut. Menurut Gus Ova, anggota PGN ini merupakan anggota pilihan yang mendapatkan gemblengan spiritual hingga dibekali ilmu olah kanuragan untuk menghadapi massa brutal.

"Anggota ini sengaja kami siapkan untuk membantu aparat keamanan apabila diperbantukan menghadapi aksi massa brutal pada 22 Mei mendatang. Kami siapkan bukan untuk melakukan tindak anarkis, akan tetapi berupaya meredam agar aksi massa yang diperkirakan akan turun sebagai bentuk protes atas hasil Pemilu tidak berkembang menjadi kerusuhan. Oleh karena itu dibutuhkan orang-orang khusus yang punya mental dan spiritual kuat menghadapi mereka. Kalau kita mendapatkan kekerasan, maka biar mereka tahu kalau kita tidak takut menghadapi mereka. Bahkan kalau diparang pun kita tunjukkan Insya Allah karena ijinNya parang itu tak akan merobek kulit kita," tegas Gus Ova.

Kepada siapapun, Gus Ova yang dikenal sebagai Panglima PGN Jawa Tengah meminta agar tidak terpengaruh pada ajakan gerakan massa yang akan digelar 22 Mei mendatang dengan sasaran KPU atau menolak hasil Pemilu Presiden. "Apalagi aksi massa tersebut dilakukan pada saat kita menjalankan ibadah Ramadan. Jangan sampai aksi nanti mengganggu ketenangan Ramadan. Jangan sampai Ramadan dimanfaatkan untuk melakukan aksi massa karena dianggap berjuang di bulan Ramadan. Mari kita sama-sama menjaga ketenangan. Laskar PGN akan hadir dimana pun untuk menjag ketenangan Ramadan agar jangan ternoda oleh aksi-aksi berbau politik", paparnya.

Gus Nuril yang dikonfirmasi melalui seluler mengatakan dirinya sedang berada di Bali. Dirinya membenarkan bahwa putranya, Gus Ova telah menggalang kekuatan untuk menghindari kemungkinan terjadinya aksi massa bernuansa politik (people power) yang bisa berdampak buruk bagi bangsa Indonesia.

"Apa yang PGN lalukan adalah demi menjaga kedaulatan NKRI. Menjaga persatuan dan kesatuan dengan menghindari terjadinya konflik sesama. Kami sudah berulang kali memperingatkan, agar jangan gegabah mengambil sikap dan tindakan. Sebab kami tak akan mentolelir bagi mereka yang merusak demokrasi dan mengancam NKRI. Kami sudah tak ada henti-hentinya mengingatkan. Kalau ada permasalahan, silahkan selesaikan dengan mekanisme yang ada, jangan lantas melakukan tindakan yang merusak dan mengancam persatuan dan kesatuan," tandas Gur Nuril Arifin.

Terpisah isu people power ditanggapi was-was oleh banyak kalangan, termasuk Direktur Dafam Group, Wijaya Dahlan. "Saya harapkan jangan sampai terjadi gerakan massa (people power), apalagi nantinya bisa mempengaruhi aspek perekonomian dan investasi. Terkait dengan bisnis perhotelan misalnya, kalau terjadi situasi kurang aman maka jelas akan mempengaruhi angka kunjungan dan menginap pada hotel-hotel. Padahal semua itu untuk menggerakkan roda perekonomian. Orang yang datang ke sebuah kota dari kota lain pasti akan memberikan dampak ekonomi. Kalau angka kunjungan turun, maka sangat pasti roda perekonomian akan bergerak melambat bahkan berhenti. Semua rakyat pasti akan terasa imbasnya," kata Wijaya Dahlan.

Karena itu Wijaya Dahlan juga menghimbau kepada masyarakat, khususnya di Kota Semarang agar lebih arif dan bijaksana dalam bertindak dan menyikapi suatu hal. (Cha)