DIY Editor : Danar Widiyanto Minggu, 19 Mei 2019 / 20:50 WIB

Kemenhub Tak Setujui Nama YIA, Tokoh Lokal Usulkan Nama Bandara 'Mangkubumi'

KULONPROGO, KRJOGJA.com - Yogyakarta International Airport (YIA) belum jadi nama resmi bandara baru di kawasan pesisir selatan Kecamatan Temon tersebut. Pemerintah Daerah (Pemda) DIY bersama Pemkab Kulonprogo memang telah mengusulkan nama YIA ke pemerintah pusat, tapi hingga saat ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI belum menerbitkan secara resmi nama bandara tersebut atau belum menyetujuinya bahkan mengeluarkan rekomendasi.

"Tentang nama bandara baru di Temon, memang amanat dari Kemenhub meminta kita (pemkab-Red.) untuk meminta pendapat dan persetujuan dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan para sesepuh. Sehingga kami melaksanakan prosesnya dan ini harus ditempuh, menggelar pertemuan dengan para tokoh Kulonprogoyang kami kemas dalam acara Buka Bersama dan Silaturahmi di Pendopo Rumah Dinas Bupati," tegas Bupati setempat dr H Hasto Wardoyo SpOG (K) kepada KRJogja.com, Minggu (19/5/2019).

Dalam proses pengusulan nama bandara baru, maka pihaknya akan melampirkan semua dokumen pertemuan yang telah ditandatangani seluruh peserta ke Kemenhub RI melalui Pemda DIY. "Saya juga sudah izin pak Gubernur, Ngarso Dalem terkait pertemuan dengan para tokoh Kulonprogo guna menampung usulan terhadap nama bandara baru. Semua dokumen hasil pertemuan termasuk nama-nama pahlawan yang diusulkan para tokoh berikut alasan mereka akan kami serahkan secepatnya ke pak Gubernur. Mudah-mudahan Senin (20/5/2019) sudah sampai di tangan Ngarsa Dalem," jelasnya.

Ditegaskan, pengusulan nama bandara internasional baru di Temon oleh para tokoh lokal bersama Pemkab Kulonprogo dan Pemda DIY penting sebagai bagian persiapan peresmian bandara. "Sebelum peresmian insya Allah akan dilakukan pak Presiden Jokowi, maka semuanya harus dipersiapkan termasuk nama bandaranya. Karena itu semua dokumen hasil pertemuan dengan 26 tokoh Kulonprogo akan kami kirimkan ke Kemenhub RI. Memang seperti itu prosedur resminya," tegas dr Hasto.

Selain nama pahlawan, para tokoh juga mengusulkan nama tempat untuk nama bandara baru tersebut. "Ada yang mengusulkan namanya sama dengan yang sekarang, YIA tapi harus dengan bahasa Indonesia (Bandara Internasional Yogyakarta/ BIY Kulonprogo-Red.). Untuk nama pahlawan, para tokoh relatif banyak mengusulkan nama Mangkubumi dengan alasan cikal bakal Mataram. Beliau merupakan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Itu salah satu alasan para tokoh Kulonprogo mengusulkan Mangkubumi menjadi nama bandara baru di Temon," ungkap Hasto yang viral diangkat Presiden Jokowi sebagai Kepala BKKBN.

Untuk nama Sultan Agung, para tokoh Kulonprogo menilai terlalu tinggi, karena wilayah kekuasaannya sangat luas sampai keluar Yogyakarta. "Akhirnya untuk penggunaan nama pahlawan, peserta mengerucut mengusulkan Mangkubumi diabadikan sebagai nama bandara baru di Kulonprogo, meskipun ada juga yang mengusulkan nama Pangeran Diponegoro, Nyi Ageng Serang dan Sultan Agung," terangnya.

Sedangkan untuk penggunaan nama tempat, kebanyakan peserta mengusulkan Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) Kulonprogo. "Dulu saya pernah mengusulkan atas pertimbangan pahlawan di Kulonprogo tidak banyak dan kami meyakini hal itu tidak akan menimbulkan pertentangan maka dalam surat resmi kami mengusulkan nama bandara Nyi Ageng Serang dan itu pertimbangannya praktis memanfaatkan nama proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA), sehingga tidak banyak perubahan dan mudah diingat," ungkap Hasto.

Kemudian dalam perkembangannya pemerintah melakukan pengkajian sehingga nama yang diusulkannya, Nyi Ageng Serang tidak diterima kemudian berubah jadi NYIA kemudian ganti lagi jadi YIA. "Karena ada rekomendasi dari Kemenhub maka sekarang kita usulkan nama bandara dengan tidak menggunakan bahasa Inggris yakni Bandara Internasional Yogyakarta (BIY), Kulonprogo," tegas Bupati Hasto.

Terkait nama bandara, secara pribadi Hasto mengatakan, seandainya ada nama selain menunjuk tempat dirinya menilai juga perlu. Karena selain memang ada unsur penghargaan terhadap pahlawan, nama juga penting. Dalam artian tidak sekadar menunjuk tempat, misalnya Bandara Yogyakarta, Bandara Surabaya. Itu seolah-olah sebatas sebutan atau keterangan saja. "Berbeda kalau namanya Bandara Ngurah Rai Bali. Terlepas dari itu prinsipnya saya mengikuti usulan dan pendapat para tokoh Kulonprogo. Kami mendukung apa yang menjadi pilihan nama oleh Bapak Gubernur untuk diusulkan ke Kementerian Perhubungan," ujarnya. 

Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager (GM) YIA, Agus Pandu Purnama membenarkan Pemda DIY dan Pemkab Kulonprogo memang telah mengusulkan nama bandara baru tersebut, YIA tapi belakangan ada rekomendasi dari Lembaga Ombudsman RI agar penggunaan nama bandara tidak berbahasa Inggris. Sehingga sementara bernama Bandara Internasional Yogyakarta tapi dibelakangnya dibubuhi (YIA). (Rul)