Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Minggu, 19 Mei 2019 / 17:31 WIB

Banyak Miliki Keunikan, Ecoprint Batik Tanpa Pewarna Kimia

EKO WAHYU TAKARI, seniman batik dan pemandu wisata warga Kelurahan Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, membuat terobosan dengan menciptakan batik ramah lingkungan. Ia memanfaatkan berbagai tanaman untuk membuat pola dan pewarna alami kain batik. Batik itu diberi nama Ecoprint. 

Eko mengatakan, pemanfaatan bahan alami dalam batik karena keprihatinannya melihat pencemaran akibat limbah kimia industri pakaian. "Batik itu memiliki risiko limbah yang besar, sisa pewarna kimia yang tidak habis dipakai, tidak akan bisa dipakai ulang sehingga dibuang begitu saja," ujarnya kepada KRJOGJA.com, Minggu (19/5/2019). 

Namun, katanya, banyak sentra industri batik yang tidak memiliki sarana pengolahan limbah sesuai standar baku mutu lingkungan. Bahkan masih ditemukan pabrik yang langsung membuang limbah ke sungai.  

Padahal limbah pewarna batik, lanjutnya, merupakan polutan berbahaya. "Banyak sentra tekstil dan batik yang akhirnya berkontribusi mencemari lingkungan, bisa dilihat kota-kota pusat tekstil, biasanya sungainya tercemar. Berangkat dari keprihatinan itu, saya mencoba membuat batik ramah lingkungan," terangnya. 

Pewarna batik Ecoprint berasal dari daun dan bunga yang memiliki getah. Bahan alam itu ditata dalam lipatan kain, lalu dipukul dengan palu hingga warnanya menempel pada mori. Proses pemukulan akan menghasilkan pola sesuai bentuk daun dan bunga. 

Proses selanjutnya, batik dibungkus plastik dan dikukus selama satu jam. Untuk mewarnai seluruh kain, batik direbus dengan air daun jambu, jati atau bit ungu. Setelah itu, kain direndam dengan air tawas. "Air tawas untuk mengikat warna, sehingga dengan demikian sama sekali tidak ada limbah kimia terbuang, sebab air tawas bisa digunakan berkali-kali," tuturnya. 

Menurutnya, batik tersebut juga menjadi terobosan mengangkat pariwisata daerah seiring beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) di Kulonprogo. "Jadi kelak mungkin bisa diarahkan unuk kegiatan wisata minat khusus," ucapnya. 

Batik Ecoprint mulai dikenalkan kepada komunitas pemandu wisata dan pengusaha kain Yogyakarta. Beberapa perempuan anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Yogyakarta belajar membuat batik di Purworejo. "Batik ramah lingkungan ini akan disukai wisatawan asing," tutur angota divisi Jepang HPI Yogyakarta, Suroya Hidayati. 

Pengusaha kain Rini menambahkan, batik tersebut termasuk model baru. Proses pembuatannya sama dengan metode batik pada umumnya, namun Ecoprint rendah limbah. "Seperti batik cetak, tapi Ecoprint butuh ketelatenan karena apabila proses pemukulan kurang, pola yang dihasilkan tidak sempurna," terangnya.(Jas)