Jateng Editor : Agus Sigit Minggu, 19 Mei 2019 / 01:41 WIB

CIDERAI PELANTIKAN KADES KLATEN

Tulisan Jawa di Selempang Pelantikan Kades Salah, Pakar Bahasa: Memalukan!

KLATEN, KRJOGJA.com - Para pakar Bahasa Jawa, seniman hingga praktisi pendidikan mengkritik penggunaan tulisan dengan aksara  Jawa pada selempang yang digunakan para kepala desa (Kades) saat pelantikan di Pendapa Pemkab Klaten pekan kemarin.

 

Tulisan dengan aksara Jawa pada selempang kepala desa (Kades) banyak yang salah, bahkan ada yang tidak bisa dibaca. Hal ini telah menjadi bahan bullyan sejumlah pihak yang paham tata Bahasa Jawa dari luar Klaten.  

Suwitoradya,Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang juga pernah menjadi dosen tamu di Jogakuen University Jepang, Sabtu (18/5/2019) kepada KRJOGJA.com mengemukakan, tulisan pada selempang Kades banyak yang salah, baik pada tulisan nama desa maupun nama orang. “Salah, tulisan nama orang maupun nama desanya salah,” kata Suwito Radyo.

Seperti diketahui, Kamis (16/5/2019) Bupati Klaten Sri Mulyani telah melantik 268 kepala desa hasil Pilkades serentak 2019.

Lebih lanjut Suwitoradya menjelaskan, pemakaian selempang dengan tulisan aksara Jawa pada pelantikan Kades tersebut menjadi preseden buruk, dan sangat memalukan, khususnya bagi para pakar Bahasa Jawa, seniman maupun masyarakat yang mencintai budaya Jawa.

“Ini sangat menohok bagi kami. Kesalahan bukan hanya pada huruf, tetapi juga pada pasangan maupun sandhangan seperti taling, pepet, wulu, suku dan lainya,” papar Suwitoradya.

Suwitoradya menegaskan, pihak yang membuat tulisan Jawa tersebut jelas menunjukkan orang yang tidak paham tulisan Jawa. Sangat disayangkan, Pemerintah Kabupaten Klaten, panitia pelantikan Kades, tidak mau konsultasi terlebih dahulu dengan para pihak yang ahli dalam Bahasa Jawa. Padahal, kata Suwito Radyo, Dewan Kesenian Klaten juga telah memiliki Komite Sastra.

Demi harkat dan martabat masyarakat dan pemerintah Kabupaten Klaten, ia minta agar pemerintah daerah menarik kembali selempang dengan tulisan huruf Jawa tersebut. Selanjutnya perlu dilakukan evaluasi dan diskusi dengan berbagai pihak untuk mengurai pesoalan tersebut.

Kesalahan dalam penulisan huruf Jawa tidak boleh dianggap sepele, karena hal itu akan menjadi  contoh kesalahan edukasi bagi generasi muda dan masyarakat umum. Selain itu, juga menjadi pembelajaran bagi semua pihak, untuk memahami dan menghargai akar budaya bangsa. (Sit)