Jateng Editor : Ivan Aditya Jumat, 17 Mei 2019 / 23:42 WIB

Api Dharma dari Mrapen Disemayamkan di Candi Mendut

MAGELANG, KRJOGJA.com - Rangkaian kegiatan puja bakti dengan pembacaan paritta-paritta suci mewarnai proses pensakralan Api Dharma yang diambil dari Mrapen Grobogan di pelataran Candi Mendut, Jumat (17/05/2019) sore hingga malam. Usai disakralkan oleh para Bhikkhu Sangha dan Rohaniwan, Majelis-Majelis Agama Buddha dan LKBI, Api Dharma kemudian disemayamkan di dalam Candi Mendut.

Kedatangan rombongan pembawa api alam dari Mrapen Grobogan disambut Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Dra S Hartati Murdaya, Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Buddha Kementerian Agama RI Caliadi SH MH maupun lainnya. Sebelum disemayamkan di dalam Candi Mendut, dilakukan pradaksina mengelilingi Candi Mendut.

Bhiku Wongsin Labhiko Mahathera kepada wartawan di pelataran Candi Mendut mengatakan api dinilai sangat penting, diantaranya karena melambangkan sinar terang dalam kehidupan manusia. Tanpa air dan api, hidup manusia akan kacau.

“Karena itu dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak Nasional 2563 BE/2019 di Candi Borobudur Magelang juga dilakukan prosesi pengambilan air dari Umbul Jumprit Temanggung dan api alam dari Mrapen Grobogan,” katanya.

Pengambil api alam ini juga melambangkan kebijaksanaan. Sebelum sampai ke posisi panas, masih ada kehangatan, dan kehangatan api itu sangat bermakna.

Pengambilan api ini juga mengandung makna memberikan kehangatan dalam persatuan dan kesatuan Umat Buddha seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia. Sedang makna api sebagai penerang atau sinar juga dapat menembus semua yang gelap, atau dapat melenyapkan kegelapan.

Ketua Umum DPP Walubi Dra S Hartati Murdaya dalam acara penyambutan kedatangan Api Dharma di pelataran Candi Mendut mengatakan api melambangkan penerangan, pencerahan, kekuatan, yang juga merupakan bagian dari kehidupan yang sangat penting di alam semesta ini. (Tha)