DIY Editor : Ivan Aditya Kamis, 16 Mei 2019 / 19:19 WIB

Target Penyebaran Paham Terorisme Menyasar Generasi Muda

YOGYA, KRJOGJA.com - Target gerakan terorisme saat ini menyasar generasi muda, mahasiswa, pelajar SMA bahkan SMP. Kelompok usia ini dianggap mudah untuk diberikan doktrin karena pada rentang umur tersebut seseorang mengalami fase mencari identitas serta memiliki idealisme yang tinggi.

"Belajar agama itu bagus, namun jangan salah untuk memilih guru. Jangan pernah percaya kepada guru yang memberikan ajaran menyimpang, maka lebih baik ditinggalkan," ujar Jack Harun, mantan narapidana terorisme (Napiter) saat memberikan kajian di Masjid Al Ishlah, Rejowinangun Kotagede Yogyakarta, Kamis (16/05/2019).

Metode penyebaran paham terorisme menurut Jack Harun kini juga mengalami pergeseran. Dari semula dengan media buku, kini memanfaatkan internet terutama media sosial.

Jika paham tersebut telah tertanam dalam ideologi seseorang, maka korban akan didoktrin untuk mentaati semua perintah yang diberikan. Bahkan tak jarang korban akan dijadikan 'pengantin' dengan alasan untuk membela agama.

"Imbauan saya kepada para orangtua, dampingi anak saat menggunakan internet, konten apa yang diakses. Jangan sampai kita tidak tahu anak kita terpapar terorisme," tambahnya.

Jack Harun yang memiliki nama asli Joko Tri Harmanto terlibat dalam teror bom Bali I sebagai perakit bom. Pria kelahiran Kulonprogo 1976 ini ditangkap dua tahun kemudian, saat pelarian pascabom Kuningan.

Akibat keterlibatannya dalam aksi terorisme ia dihukum 6 tahun kurungan penjara. Jack Harun kemudian mendapat remisi sehingga hanya menjalani masa kurungan penjara selama 4 tahun.

Jack Harun mengaku terpapar paham terorisme sejak SMA hingga kuliah. Setelah itu ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok di Ambon dan Poso.

Sepulang dari Ambon dan Poso, Jack Harun mengaku kebingungan menyalurkan ilmu merakit bomnya, sehingga bergabung lagi dengan kelompok Amrozi, Imam Samudra dan Muklas melakukan teror Bom Bali I. "Setelah teror Bom Bali I, saya terus berpindah-pindah dan tertangkap pascabom Kuningan," ungkap Jack Harun yang pernah menjadi tangan kana gembong teroris Noordin Moh Top.

Sementara itu perwira Polda DIY, Kompol Wiwik Haritulasmi mengatakan Kepolisian terus memantau kegiatan eks napiter. Ditegaskannya dari beberapa mantan napiter yang ada di wilayah DIY seluruhnya telah kembali kepada masyarakat.

"Tetap kami pantau terus, salah satu caranya dengan sering berkumpul dan berdiskusi. Dari sekian yang ada, seluruhnya telah kembali kepada masyarakat dan tak ditemukan indikasi akan mengulangi perbuatannya," tegasnya. (Van)