Kisah Inspiratif Editor : Danar Widiyanto Jumat, 17 Mei 2019 / 00:30 WIB

Jadi Penerbang Militer, Anisa Menangis dalam Pelukan Ibunda

TETESAN air mata dari wanita ini sangat tulus. Bahkan air mata itu mampu menorehkan sejarah baru bagi Wanita Angkatan Udara (Wara) khususnya alumni Akademi Angkatan Udara (AAU). Ternyata, dia adalah salah satu dari dua alumni AAU yang lulus Sekolah Penerbang TNI Terpadu Angkatan 95.

Namanya Letda Pnb Anisa Amalia Octavia STr (Han). Dara kelahiran Kabupaten Sleman ini akhirnya secara resmi menjadi elang muda (sebutan penerbang/pilot militer) bersama 42 lulusan lainnya yang baru saja dilantik oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna SE MM pada Upacara Wingday Sekolah Penerbang TNI Terpadu Angkatan 95 di Lapangan Jupiter Lanud Adisutjipto Yogyakarta, Kamis (16/05/2019).

Tak hanya Anisa saja, tetapi alumni AAU lainnya yang juga Wara turut menorehkan sejarah menjadi penerbang militer yakni Letda Pnb Mega Coftiana STr (Han). Dua Wara ini juga menjadi yang pertama sebagai penerbang lulusan AAU. Nantinya, Anisa menjadi pilot pesawat Hercules dan Mega pilot pesawat Cassa. Keduanya bakal dikembalikan ke Skadron masing-masing di Lanud Abdulrahman Saleh.

Dari pengamatan wartawan KRJOGJA.com, Anisa tak bisa membendung air matanya saat sang ibunda Eni Sudaryati memberikan pelukan kasih sayang. Namun sejatinya, pelukan itu diberikan karena rasa bangga sang ibunda terhadap putrinya yang berhasil dilantik jadi elang muda milik TNI AU. 

Anisa tak menyangka bakal menjadi seorang penerbang militer. Bahkan Anisa sendiri awalnya takut ketinggian. "Jujur saja, saya ini takut ketinggian," ucap Anisa. Kendati demikian, dia bakal menjalankan amanah ini seprofesional mungkin demi menjaga serta melindungi tanah air Indonesia. Takdir yang tak bisa dihindari ini tentu bakal dilaksanakan dengan ikhlas dan sekuat tenaga.

"Walaupun saya wanita, tetapi dunia penerbangan tidak ada gender wanita atau pria. Bahkan pesawat atau alam juga tidak melihat hal itu. Jadi saya akan berusaha dengan profesional," tandas Anisa.

Sementara itu, KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna SE MM usai melantik atau mewisuda lulusan Sekbang TNI Terpadu menyatakan, pihaknya masih kekurangan jumlah penerbang. Idealnya, setiap tahun TNI harus meluluskan sebanyak 52 penerbang. Namun kali ini lulusannya hanya 43 orang.

"Untuk menyongsong kebutuhan alutsista yang akan datang, idealnya setiap tahun meluluskan 52 penerbang. Tetapi kami tidak bisa memaksakan untuk penerbang. Sebab harus memenuhi syarat dan mengutamakan kualitas, dengan harapan keselamatan terbang dan kerja bisa terjamin," terang KSAU.

Terkait dua wara pertama alumni AAU yang menjadi penerbang, Marsekal Yuyu Sutisna mengapresiasi. Bahkan menurut KSAU setiap angkatan Sekbang harus dimasukkan dua wara AAU. Hanya saja semua harus lulus psikotes dan kesehatan serta layak menjadi penerbang TNI AU. Diharapkan, dua wara ini bisa mengisi kemampuan juga kebutuhan di skadron masing-masing. 

Pada Wingday Sekbang TNI Terpadu Angkatan 95 itu, KSAU melantik sebanyak 43 penerbang muda. Terdiri 37 perwira AU, 2 perwira AD, 3 perwira AL dan 1 perwira dari TUDM (Angkatan Udara Malaysia). Menurut KSAU, 1 penerbang TUDM itu hasil kerjasama antara TNI AU dengan Angkatan Udara Malaysia. Begitu pula sebaliknya, 1 perwira TNI AU juga ikut sekolah penerbang di Malaysia.

Untuk lulusan terbaik diraih Letda Pnb Silmi Mubarak STr (Han) sebagai lulusan terbaik jurusan fix wing, dan lulusan terbaik jurusan rotary wing diraih Letda Pnb Anterio Chevalia Y STr (Han). Dua lulusan terbaik ini saat disematkan tanda pangkat dan wing penerbang oleh KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna, melintas beberapa pesawat tempur T50i Golden Eagle dan F-16 untuk memberikan fly pass sebagai bentuk penghormatan kepada elang-elang muda tersebut.

Tak hanya itu saja, usai upacara juga diisi dengan atraksi pesawat latih Sekbang Lanud Adisutjipto diantaranya penampilan Jupiter Aerobatic Team, pesawat Grob dan terjun payung dari anggota TNI AU. (Adk)