Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 16 Mei 2019 / 17:11 WIB

BI 7 Reverse Repo Rate Tetap 6 Persen

JAKARTA, KRJOGJA.com - Bank Indonesia ( BI)  mempertahankan tingkat suku bunga acuan  BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR)  tetap sebesar 6 persen, dan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Tetapnya BI Repo Rate ini  untuk  menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. 

"BI memutuskan acuan  BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap sebesar 6 persen, dan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (16/5).

Dikatakan, BI  akan terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. 

Selain itu, BI  juga tetap memastikan ketersediaan likuiditas di perbankan serta menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain dengan mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0 persen, rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 4 persen dengan fleksibilitas repo sebesar 4 persen, dan kisaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebesar 84-94 persen.

Dijelaskan, kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait terus dipererat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing.

Dipaparkan, pemulihan ekonomi global lebih rendah dari prakiraan dengan ketidakpastian pasar keuangan yang kembali meningkat. Pertumbuhan ekonomi AS diprakirakan menurun dipicu stimulus fiskal yang terbatas, pendapatan dan keyakinan pelaku ekonomi yang belum kuat, serta permasalahan struktur pasar tenaga kerja yang terus mengemuka. (Lmg)