Jateng Editor : Danar Widiyanto Rabu, 15 Mei 2019 / 16:41 WIB

Bahaya!Dakwah Provokatif Picu Konflik Keagamaan

SEMARANG KRJOGJA.com - Dosen pengajar ilmu politik Undip, Dr Muhammad Adnan MA dalam Seminar Menyikapi Perbedaan Meredam Radikalisme Paham Keagamaan yang digelar Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah bekerjasara dengan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Selasa (14/5/2019) di Kampus Tembalang memaparkan bahwa sikap-sikap merasa diri sendiri paling benar, paling pure ajarannya dan memandang pihak lain sangat salah, telah melahirkan perilaku intoleran dalam bentuk dakwah yang insinuatif.

Muhammad Adnan sebagai narasumber lebih jauh memaparkan bahwa, penafsiran atas sumber hukum Islam yang textonomy didukung dengan perasaan si penafsir yang 'pure' tetapi sebenarnya rigid dan mendorong dakwah yang insinuatif dan profokatif, justru memicu terjadinya konflik keagamaan yang bersifat psikis dan fisik.

"Konflik yang terjadi antara warga MTA dengan warga NU di tiga daerah, antara lain Purworejo, Blora dan Kudus pada tahun 2011 mencerminkan fenomena yang saya sebutkan tadi. Namun demikian mencari titik temu atas perbedaan pemahaman keagamaan sebenarnya tidak sulit dilakukan, Passwordnya adalah silaturahmi dan komunikasi diantara pihak-pihak yang berbeda, berseberangan dan berkonflik," papar Muhammad Adnan.
Atas jalinan silaturahmi dan komunikasi yang baik, pada kasus dengan MTA tersebut berangsung mulai surut setelah pada tahun 2018 MTA mulai menurunkan tensi pembahasan kajian keagamaan yang insinuatif.

"Yang sulit untuk dicari titik temunya dalam hal konflik pemahaman keagamaan apabila perbedaan paham keagamaan itu kemudian berhimpit dengan perbedaan pilihan politik, atau kepentingan-kepentingan politik yang lebih luas. Perbedaan paham keagamaan itu sumbernya adalah perbedaan pendapat, sedangkan perbedaan politik itu sumbernya adalah perbedaan pendapatan," ungkapnya lebih dalam.

Perbedaan politik, khususnya pilihan politik ketika mendapat bumbu perbedaan paham keagamaan, maka olahan masakan yang disajikan aromanya terasa sedap, padahal iyu adalah racun yang mendegradasi misi suci agama, yaitu Rahmatan lil'alamin.

Agama menurut Adnan sebagai sebuah nilai harus memperkuat politik sebagai sebuah alat. Politik sebagai instrumen tidak boleh lepas dari nilai-nilai agama. Bukan justifikasi agama untuk membenarkan kepentingan politik, atau politisasi agama untuk mendapatkan pembenaran.

Peraih master dari Hiroshima University Jepang ini memaparkan problem yang sedang dihadapi Indonesia saat ini adalah seperti dipaparkan. Hubungan antara agama dengan negara, agama dengan politik tampaknya belum tuntas, atau setidaknya menguak kembali ke permukaan jagad politik Indonesia. "Ada pararelitas keyakinan terhadap paham keagamaan Islam tertentu dengan paham politik yang dianut, tetapi ini memerlukan penelitian lebih lanjut," papar Adnan, mantan Ketua PW NU Jawa tengah ini.
Menurutnya, sudah saatnya semua membangun kesadaran terhadap pemahaman kesadaran kebangsaan. Harus disuarakan terus tak boleh berhenti, ibarat salat 5 waktu tidak boleh ada yang bolong. "Dalam kesadaran penuh sebagai bangsa Indonesia, sebagai orang islam, muslim yang Indonesia, jangan sampai kita mengingkari ke-Indonesia-an kita. Karena ke-Islaman kita melekat pada ke-Indonesia-an kita. Faktor kepentingan politik, perbedaannya tidak bisa dihindari. Kalau murni perbedaan agama mudah diselesaikan, tapi kalau ada muatan politik itu yang paling sulit," kata Adnan.

Karena itu perlu dibangun silaturahmi dan komunikasi dengan kelompok yang berbeda paham dalam kontek keagamaan. Terus dibangun supaya tidak ada virus atau bakteri politik yang menempel di situ. Sebab bila ada sikap intoleran maka itu akan menjadibenik radikalime, dan radikalis sempurna akan jadi teroris.

Hadir dalam seminar yang digelar mendekati buka puasa tersebut antara lain Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo, Rektor Undip Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum (juga sebagai moderator), Wakil Gubernur Jatim Dr Emil Elestianto Dardak MSC (Wagub Jatim) sebagai Keynote Speech, serta dua pembahas Prof Dr Mudjahirin Thohir MA dan Prof Dr Muhibbin MAG (Rektor Uin Walisongo Semarang).(Cha)