Wisata Editor : Danar Widiyanto Rabu, 15 Mei 2019 / 15:40 WIB

Melihat Sejarah Cagar Budaya Masjid Pathok Negoro Plosokuning

MASJID - MASJID Pathok Negoro yang ada di bawah naungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan wujud kebijaksanaan Sri Sultan HB I. Termasuk Masjid Pathok Negoro Plosokuning, di Minomarta, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta.

Masjid kuno dengan bangunan lawas ini didirikan sekitar tahun 1757-1758 atau setelah Perjanjian Giyanti. Yakni peristiwa sejarah terbaginya Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah, di sebelah timur Kali Opak yang berkedudukan di Surakarta dan sebelah barat Kali Opak yang berkedudukan di Yogyakarta.

Masjid berdiri diatas lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi. Di kanan kiri bangunan inti masjid terdapat makam, kolam dan sekolah TK. Arsitektur bangunan masjid sekitar 80 persen masih asli seperti saat didirikan ratusan tahun silam. Dilihat sekilas, arsitektur merupakan miniatur dari Masjid Gedhe Kauman.

"Jadi HB 1 itu setelah perjanjian Giyanti itu mendapat wilayah di sebelah barat Kali Opak. Lalu mendirikan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nah benteng-bentengnya itu berupa masjid," kata Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Kamaludin Purnomo saat ditemui di kompleks masjid, Rabu (15/05/2019).

Menurut Kalamudin, 80 persen material bangunan di Masjid Pathok Negoro Plosokuning masih asli. Mulai dari tiang, mimbar khatib, penyangga bedug merupakan kayu jati yang sudah sangat lama. Meski terlihat rapuh, namun kayu-kayu itu masih begitu kokoh.

Terlepas dari sejarah berdirinya Masjid Pathok Negoro Plosokuning, saat ini keberadaan masjid ini tetap menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga difungsikan untuk kegiatan sosial bermasyarakat.

"Masjid Patok Negoro Plosokuning sudah ditetapkan menjadi Cagar Budaya Yogyakarya. Masjid bersejarah ini sudah berstatus menjadi cagar budaya perawatan masjid sepenuhnya berada di bawah Pemerintah DIY," katanya.

Menurut Kamaludin, ada aktivitas setiap hari di masjid Pathok Negoro Plosokuning. Terlebih lagi pada bulan Ramadan seperti saat ini. Seperti kegiatan pondok, kajian agama, tadarus Alquran, sarasehan Pathok Negoro, musyawarah, kajian kitab kuning, kesenian tradisional.

"Kalau kegiatan di bulan Ramadan mulai sore sampai pagi, pengajian anak-anak, orang tua, tarawih, tadarus, itikaf dan salat malam, juga ada sahur bersama," terangnya.

Masjid bersejarah ini tak hanya ramai di bulan ramadan. Kamaludin mengatakan, masyarakat sekitar seperti sudah menjadikannya seperti pesantren. Jadwal kegiatan keagamaan selalu ada selama sepekan, bahkan siapapun bisa mengikuti.

Sejumlah kegiatan hari biasa yang selama ini berjalan, seperti hafalan Alquran saat malam Senin. Lalu tadarus Alquran (malam Selasa), berbagai kajian kitab (malam Rabu), sarasehan yang pesertanya khusus berpakaian Jawa (malam Kamis), tahlilan (malam Jumat), dan kajian kitab kuning (malam Sabtu).

Pengelolaan masjid di bawah Kraton Yogyakarta. Saat ini ada dua abdi dalem yang mengelola masjid dibantu oleh takmir.

"Rencananya abdi dalem akan ditambah jadi 47 orang, karena tahun ini direncanakan ada revitalisasi kawasan sekitar masjid," pungkasnya. (Ive)