Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 15 Mei 2019 / 10:54 WIB

Mendikbud: Instruktur Ahli LN Dukung Kapasitas Guru

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menepis isu yang beredar bahwa Pemerintah akan mendatangkan guru asing untuk mengajar di Indonesia. 

Menurut Mendikbud, yang tepat adalah pemerintah berencana mengundang atau mendatangkan para instruktur ahli dari negara-negara dengan kualitas pendidikan yang maju untuk dapat memberikan pelatihan (training of trainers) kepada para instruktur di dalam negeri.  "Sekali lagi saya tegaskan. Menko Puan Maharani tidak pernah mengatakan 'impor', tetapi mengundang para guru dan instruktur dari luar negeri untuk memberikan pelatihan kepada guru kita sesuai bidangnya. Pelatihan tidak hanya untuk guru-guru saja, tetapi juga untuk instruktur di balai-balai latihan kerja kementerian lain," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy usai buka puasa bersama awak media di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Senin (13/5/2019) Malam.

"Dan ini tidak pribadi. Tetapi melalui lembaga-lembaga penyedia pelatihan. Kita sudah punya kerja sama dengan Belanda, Perancis, Jerman, dan lain-lain," tambah Muhadjir. 

Rencana ini merupakan respons atas arahan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas kabinet terkait upaya menggenjot pembangunan sumber daya manusia. "Selama ini sudah kita lakukan, tetapi jumlahnya masih terbilang kecil. Presiden ingin lebih masif lagi, agar dampaknya juga lebih 'nendang'," katanya kepada awak media. 

Para instruktur ahli yang didatangkan dari luar negeri tersebut akan difokuskan untuk meningkatkan kapasitas guru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Khususnya di bidang prioritas seperti pariwisata dan perhotelan, kemaritiman, teknologi informasi dan komunikasi, advanced robotic mekatronik, dan lain-lain. 

"Sasaran utamanya adalah untuk peningkatan kapasitas pembelajaran vokasi di SMK. Dan juga pembelajaran _science,_ _technology,_ engineering and mathematics  (STEM)," tutur mantan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang itu. (Ati)