DIY Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 12 Mei 2019 / 12:52 WIB

Alhamdulillah, Buruh Gendong Pasar Beringharjo Semangat Mengaji

YOGYA, KRJOGJA.com - Bulan Ramadan semakin meningkatkan iman umat muslim untuk menjemput pahala. Buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo berbondong-bondong meluangkan waktu belajar mengaji Alquran di bulan suci ini.

Salah satunya, Isah (45) Warga Kulonprogo. Meski belum lancar mengeja huruf hijaiyah dalam bacaan Iqra tak menyurutkan niat belajar mengajinya itu. Isah mengaku sebelumnya pernah belajar mengaji, lalu berhenti karena faktor kesibukan. "Dulu pernah ngaji, tapi berhenti. Itu juga sudah lama," tutur Isah usai menyelesaikan giliran mengaji Iqro di pasar Bringharjo lantai 2.

Isah mengaku belajar mengaji merupakan ke sempatan langka. Apalagi menyadari kemampuannya memahami Alquran masih di bawah standar. "Mumpung masih ada kesempatan mengaji, saya ingin sekali bisa baca Alquran. Kalau terus tidak meluangkan waktu, sampai kapanpun enggak bisa," ungkap Isah.

Isah benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar mengaji sedangkan urusan rezeki diserahkan kepada Allah swt.

"Soal rezeki sudah ada yang mengatur. Harapannya pelatihan (belajar mengaji) diadakan terus. Teman-teman yang belum masuk biar bisa ikutan juga, semakin banyak semakin semangat belajarnya karena," tambah Isah.


Dia mengaku telah menjalani profesi buruh gendong di Pasar Beringharjo selama sembilan tahun. Dia mendapatkan Rp 3000-5000 sekali menggendong pesanan para langganannya. Sedangkan saat di rumah mendapatkan tambahan penghasilan dari membuat kerajinan.

Kelas belajar mengaji di Pasar Beringharjo digelar setiap Jumat selama Ramadan mulai Pukul 13.00 - 14.30. Bagi  yang masih dalam tahap mengeja dikelompokkan menjadi satu. Sedangkan yang cukup fasih dibuatkan kelas terpisah. Kelas belajar mengaji ini digagas BMT Beringharjo.

Ustadzah Nurul Falati (27) sebagai guru  yang  yang menjembatani para  buruh gendong mengaku puas bisa menemani mereka belajar mengaji. Meski harus sabar mengajari para buruh mengaji. "Karena memang lebih sulit mengajar orang tua dibanding anak-anak,” pungkasnya. (Ive)