Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Kamis, 09 Mei 2019 / 16:51 WIB

UAD - IKIP Muhammadiyah Maumere Gelar Workshop Pembelajaran Model IoT

YOGYA, KRJOGJA.com - Menandai  Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bersamaan dengan implementasi kerja sama antar-IKIP Muhammadiyah Maumere dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) diadakan pelatihan dan workshop dengan tema "Penerapan Pembelajaran Tematik dengan Model Internet of Things/IoT" yang dilaksanakan 29 April - 2 Mei 2019. "Kegiatan ini diikuti oleh 6 SD di Kabupaten Sikka Maumere NTT dengan jumlah guru sebanyak 23 orang," kata Vera Yuli Ervina MPd, anggota Tim IoT di kampus 5 UAD, Jalan Ki Ageng Pemanahan,  Yogya, Kamis (09/05/2019).  

Vera Yuli menginformasikan, tanggal 29 April  acara dibuka oleh Drs Agustinus Hermen selaku Sekretaris Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka. "Harapan beliau dari pelatihan ini memberikan dampak yang baik dan memberikan pengetahuan yang baru bagi guru-guru di Kabupaten Sikka dalam menghadapi revolusi 4.0," ujarnya.

Dr Dwi Sulisworo selaku Ketua Peneliti mengatakan, penerapan pembelajaran tematik berbasis IoT ini agar dapat memajukan pendidikan di berbagai pelosok nusantara terkhusus wilayah Indonesia Timur. Pembelajaran tematik dengan menggunakan IoT menjadikan salah satu alternatif pembelajaran yang kolaboratif dan kontekstual. Pelatihan ini diawali dengan penyusunan perangkat pembelajaran berbasis IoT yang terdiri dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), penilaian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dilanjutkan tindak lanjut guru mengoperasikan robot di berbagai situasi sesuai kebutuhan.

Pada hari terakhir di Pulau Kojadoi para tim peneliti (Vera Yuli Erviana MPd, Nanang Suwondo MPdSi dan Meita Firianawati MPd) terjun di SD Negeri Kojadoi terkait pemantauan internet di wilayah terdepan yang belum terjangkau listrik. Hasil dari pemantauan listrik di wilayah terdepan terdapat sinyal 4G dengan suply listrik dari generator.

Kepala sekolah di SD tersebut, Munirah SPd mengatakan,  meskipun jauh dari kota dan listrik, namun rata-rata siswa di SD ini memiliki handphone meskipun jarang dibawa ke sekolah sehingga IoT dapat dijalankan oleh siswa. Jarak sekolah dan rumah warga ditempuh dengan waktu 1 jam dengan menggunakan jembatan yang terbuat dari tumpukan batu atau bisa juga dengan menggunakan kapal namun berbayar.

Pelatihan diakhiri dengan mengisi angket penerimaan pembelajaran berbasis IoT yang terdiri dari aspek kemudahan, kemanfaatan, kemudahan, dan kepuasan. Para guru sangat antusias selama 4 hari pelatihan yang dilihat dari keseriusan mereka selama kegiatan berlangsung. Untuk penerapan penggunaan
robot berbasis IoT dilaksanakan oleh guru yang sudah dilatih oleh tim peneliti untuk praktik dalam proses pembelajaran dari tanggal 9-15 Mei 2019 di SDK Hewokloang, MIN I Sikka, SDI Wairkalu, SDI Wairotang, SD Gembira, dan MIS Al-Muhajirin. (Jay)