DIY Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 09 Mei 2019 / 02:12 WIB

Daun Salam 'Si Polwan' Melanglang di Tiga Negara

BANTUL, KRJOGJA.com - Selama ini, daun salam, istilah latinnya 'syzigium polyanthum'  seperti kurang bernilai secara ekonomi. 

"Umumnya, daun salam hanya untuk penyedap masakan bersantan saja," ujar Lalu Alan Kadarisman, mahasiswa Teknik Industri, Fakultas Teknologi Informatika (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di kampus utama, Ringroad Selatan, Tamanan, Bantul, Rabu (08/05/2019). Bersama dua temannya satu kampus, Zulfan Khadir (Teknik Informatika), Alfia Husna (Farmasi) melakukan penelitian tentang daun salam dengan pembimbing dosen Teknik Industri-FTI-UAD, Farid Ma'aruf ST MEng. 

Berkat penelitian dan inovasi dengan dibuat produk obat kumur diberi nama 'Si Polwan' menang tiga negara. Dalam International Festival Innovation on Green Technology (Ifinog) di Universiti  Malaysia Pahang, 19-21 April 2019. Dalam Ifinog 2019 meraih Best Award Creative and Innovation dan mendapat mendali emas. 

Sebelumnya, 3-16 Desember 2018 di Chalalongkom University Thailand
hasil penelitian dan produk 'Si Polwan' dalam forum Winter Boot Camp Entrepeneurship meraih beasiswa 3000 USD dalam waktu 16 hari. Materi yang sama, dihadirkan pula dalam Conference of Indonesian Students Assocation in South Korea. Meraih penghargaan sebagai presenter dan accepted paper, 30-31 Maret 2019. "Daun salam 'Si Polwan sudah melanglang tiga negara, Korea Selatan, Thailand dan Malaysia," ujarnya.

Didampingi Utaminingsih Linarti ST MT (Kaprodi Teknik Industri FTI-UAD), Okka Adiyanto STP MSc (Bidang Kemahasiswan Teknik Industri -UAD), Alan Kadarisman menyebutkan, daun salam selain dibuat obat kumur juga dibuat herbal. Khasist daun salam untuk mengobati penyakit karis gigi, pembersih karang gigi, mencegah bau mulut. 

"Terus terang, kami bertiga tertantang karena dari data tahun 2007 ada 43,7 persen di Indonesia yang terkena karies gigi. Tahun 2013 meningkat lagi, 73,6 persen terkena karis gigi. Kami melakulan penelitian dan membuat prodak tersebut," tuturnya. Sekarang ini setiap bulan mampu memproduksi 200 botol, setiap bulan 4 kali produksi. Satu botol hanya dijual Rp 19.500. 

Utaminingsih Linarti dan Okka Adiyanto mengatakan, saat ke Ifinog 2019-Malaysia, Prodi Teknik Industri juga memberangkatkan 3 tim, yakni 'Si Polwan', Dilan dan SMK Banyuasin -Palembang.

SMK Banyusin Palembang sebagai pemenang Indonesian Riset Competition SMA/SMK/MA yang diadakan Prodi Teknik Industri ke Malaysia. SMK tersebut mampu membuat 'Anti Sleepiness Bracelet/ASBA to Safety for Vehicle user' atau gelang kesehatan. Tim Dilan dari Teknik Industri UAD di Ifinog-2019 mendapatkan medali emas atas inovasinya, membuat pupuk cair dari buah-buahan.

Ditegaskan Utaminingsih Linarti dan Okka Adiyanto, prodi Teknik Industri mendorong mahasiswa melakukan penelitian dan inovasi dalam bentuk produk. Hal ini sebagai aplikasi mata kuliah Kewirausahaan. (Jay)