Kisah Inspiratif Editor : Agung Purwandono Senin, 06 Mei 2019 / 08:30 WIB

Pernah Rugi 1,6 Milyar, Iin Mintosih Kembali Ekspor Bantal dari Yogya

SLEMAN, KRJOGJA.com - Iin Mintosih pernah mengalami kebangkrutan di tahun 2005. Ia terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bahkan ia menutup usahanya. Padahal saat itu ia sudah melakukan ekspor bantal ke Eropa. Kini ia bangkit lagi masih dengan produk booming di Yogyakarta.

Iin Mintosih (47), memahami betul artinya jatuh dan bangkit lagi. Pemilik Satu Kupu Bantal asal Yogyakarta ini memulai bisnisnya sejak 1999.

Saat itu ia, tidak pernah berpikir bahwa produknya akan banyak dicari para pembeli. Namun, pengalaman pahit dirasakan Iin ketika usahanya terpaksa gulung tikar karena mengalami kerugian Rp 1,6 milyar pada 2005 karena orderan tidak terbayar.

"Tahun 2005 karyawan PHK semua, bener-bener tutup, karena rugi sekitar Rp 1,6 milyar. Tapi kita kerugiannya lebih banyak dari itu karena setiap order nggantung dan awut-awutan," jelasnya.

Pada awal kelahiran usahanya Iin mengaku tidak sengaja. "Waktu itu saya cari bantal yang bagus kok susah. Akhirnya jadi njaitin sendiri, kebetulan saya punya temen EO ditawari untuk ikut pameran di Malioboro akhirnya saya buat 7 contoh produk bantal dan permintaan nya ternyata banyak banget," terang Iin, alumni jurusan Arsitektur Atmajaya Yogyakarta. 

Tahun 2000, Satu Kupu mengalami booming. Tidak hanya ramai di kalangan lokal, Ia juga mengekspor bantal produksinya ke Italia. "Tahun 2000 mulai ekspor ke Italia. Seiring berjalannya waktu pegawai, outlet tambah banyak karena kita tiap bulan kan kirim satu kontener atau 9.000-12.000 pcs bantal yang dikirim dalam kondisi divakum," ungkap Iin.

Bangkit Lagi, Fokus di Online

Menyadari banyaknya pembeli yang mencari keberadaan Satu Kupu, Iin memutuskan membuka usahanya kembali di tahun 2007. Bermodalkan uang pribadi, Iin menjalankan usahanya dengan penuh lika-liku.

"Kemudian kami mulai lagi di tahun 2013 sampai sekarang, kita full di Facebook jadi customer yang tanya kesini semuanya dimulai lagi dari Facebook. Jadi masyarakat Jogja kalo gak tahu online ya gak ngerti Satu Kupu masih ada atau nggak," tutur Iin.

Pasca bangkrutnya, saat ini Iin hanya memproduksi bantal sekitar 3000 pcs untuk dikirim ke Italia. "Kalo yang saat ini dikirim belum banyak karena masih join kontainer. Saat ini justru lebih banyak pesanan yang lokal dibandingkan yang internasional. Jadi 3000 pcs bantal perbulan ke Italia," ujarnya.

Bukan hanya Italia, ia juga mulai merambah pasar Amerika, meski baru contoh untuk pameran dulu.

Guna mengoptimalkan pemasarannya Iin kemudian dibantu Cornellia & Co yang merupakan agensi PR Marketing. "Kami berusaha mendukung dari sisi branding dan promosi. Itu memang kompherensif banyak yang harus dilakukan, misalnya sosial medianya, offlinenya dengan temen teman media seperti ini, kemudian juga dengan temen temen perhotelan, komunitas," tambah Ayu Cornelia yang optimis dengan Satu Kupu karena unik dan kualitasnya yang bagus.

Pendampingan selama 6 bulan tersebut juga untuk menjembatani kondisi pasar Satu Kupu yang sepi di masa Pemilu ini. "Selama menjelang Pemilu atau 7 bulan ini kita drop sekali. Cuma jadi seperempat pendapatan biasanya," jelas Iin yang terpaksa memangkas separuh karyawannya untuk mengurangi cash flow.

"Kalau dari dari desain kan terkenal board color, tapi ketika kita pindah ke warna lain orang tetep tanya desain klasik karena kapanpun tetep dicari orang. Gak musiman misalnya kaya bantal donat pas lagi rame terus semuanya bikin tapikan usianya cuma setahun habis itu udah selesai. Jadi saya tidak tergiur dengan apa yang lagi tren di luar," jelas Iin.

Satu Kupu sendiri memproduksi bantal sofa, beddingset, bantal menyusui, bantal duduk, serta aksesoris dekorasi ruangan lainnya. Produknya mulai dibandrol dengan harga Rp 50 - 250 ribu. Rahasia produknya berasal dari pemakaian dacron kualitas sutra yang tidak mudah kempes serta kain rayon baby atau industri textile.

Kelebihan kain ini yaitu dapat beradaptasi dengan suhu ruangan. Apabila dalam keadaan temperatur tinggi, bahan tersebut akan menghasilkan hawa yang dingin dan nyaman dan kebalikannya. Dengan varian produk 7000 jenis bantal baik sisi bentuk maupun ukuran.

"Menjelang lebaran kita persiapan stok karena kalau lebaran itu luar biasa peminatnya. Lebaran tahun kemarin aja sampe ada yang telat dikerjakan. Produk yang paling favorit itu bantal sofa, sekitar 60 persen," pungkasnya. (KRA-10)