Kisah Inspiratif Editor : Agung Purwandono Rabu, 01 Mei 2019 / 19:28 WIB

Suryopranoto, Kakak Ki Hadjar Dewantara Berjuluk 'Raja Mogok dari Jogja'

YOGYA, KRJOGJA.com - Namanya kalah tenar jika dibandingkan dengan sang adik Ki Hadjar Dewantara. Berbeda dengan adiknya, Suryopranoto menempuh jalur perjuangan melawan penjajah Belanda dengan mengorganisir para buruh melalui aksi pemogokan.
 
Lahir dari istana Pakualam anak dari K.P.A. Suryaningrat, Suryopranoto memilih memotong gelar 'Raden Mas' dari namanya. Sebagai aktivis anti kolonial, Suryopranoto mengawali karirnya dengan bergabung dengan Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Corak BO yang masih bersifat  priyayi dan lebih  hati-hati dalam membuat sikap terhadap  Pemerintahah Kolonial menjadi alasan ia pindah dan  masuk Sarekat Islam (SI) pada tahun 1914 yang dinilai radikal dan menjabat sebagai komisaris.
 
Suryopranoto dengan tegas mengatakan bahwa ”kemenangan perjuangan dan usaha menjadikan alat-alat produksi sebagai milik umum tidak harus dicapai dengan aksi bersenjata, tetapi dengan paksaan batin (moral), protes, perundingan di muka umum, dan jika perlu  dengan pemogokan", dalam buku karya Budiawan 'Anak Bangsawan bertukar Jalan'.
 
Menurut Bambang Sulistiyo dalam bukunya 'Pemogokan Buruh Sebuah Kajian Sejarah',  keberadaan Suryopranoto di SI pada 1918 berperan mengawasi jalannya kebijakan dan memastikan keberpihakannya terhadap bumiputera. Hal ini bisa dilihat melalui tuduhannya yang ditujukan kepada Tjokroaminoto yang dianggap tidak mengerti kondisi bumiputera Yogyakarta mengingat Tjokro berasal dari Madiun. Protesnya berakhir ketika ia berhasil mengambil alih pimpinan SI cabang Yogyakarta.
 
Tidak hanya itu, keaktifannya di Personeel Fabriek Bond (PFB) yang merupakan organisasi buruh pabrik gula di sekitar Yogyakarta  serta peran pentingnya di Adidarmo dalam memberikan pengajaran dan membela bumiputera dari kesewenangan, menguatkan namanya dalam persatuan buruh di bawah naungan SI.
 
Dapat Sebutan 'Raja Mogok'
 
Aksi penentangan lain dilakukan pada Oktober 1918 oleh buruh pabrik gula yang dimotorinya. Keterpurukan akan kondisi pangan terlihat jelas dengan perluasan perkebunan gula serta minimnya areal persawahan sehingga harga pangan melambung tinggi dan kelangkaan beras mulai terjadi menjadi alasannya.
 
Banyaknya aksi pemogokan yang dimotorinya sepanjang tahun 1918-1920 membuatnya dijuluki 'Si Raja Mogok'. Pada puncaknya ia mempersiapkan aksi pemogokan umum se-Jawa disebabkan manajer pabrik gula tidak mau bersikap kooperatif atas tuntutan perbaikan sistem kerja dan kenaikan gaji.
 
Berlanjut pada 1920, Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia menjelaskan bahwa menjelang masa panen Suryopranoto mengumumkan pemogokan umum para buruh pabrik gula. Namun, ancaman pemogokan ini mulai mereda karena para pemilik pabrik gula dan Pemerintahan Kolonial mau bersikap kooperatif terhadap para buruh.
 
Berbicara mengenai buruh sebagai massa terbesar dalam tubuh SI tidak bisa dilepaskan dari tokoh Semaun selain Suryopranoto. Warna radikal buruh bagi Suryopranoto menekankan pada aspek pendidikan buruh dibandingkan Semaun yang lebih revolusioner. Inilah yang menjadi perpecahan 2 tokoh paling berpengaruh dalam gerakan buruh.
 
Masa tuanya ia habiskan mengajar di Taman Siswa Yogyakarta. Pada 15 Oktober 1959 Suryopranoto wafat di Cimahi Jawa barat dan dimakamkan di Yogyakarta. Presiden Soekarno kemudian memberinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional RI. (KRA-10)