DIY Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 26 April 2019 / 13:11 WIB

Gaya Hidup Modern Singkirkan Pangan Lokal

SLEMAN, KRJOGJA.com - Keberadaan sumber bahan pangan lokal semakin terpinggirkan oleh tingginya gaya hidup masyarakat modern. Kepraktisan dan mudah diperoleh menjadi penyebab masyarakat memilih makanan siap saji meski nilai gizi yang terkandung dalamnya sangat minim.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Prof Eni Harmayani mengungkapkan, sumber daya di Indonesia sebenarnya banyak menyimpan nilai gizi yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk diolah menjadi kebutuhan pangan berkualitas. Bahkan, keanekaragaman pangan lokal yang mengandung karbohidrat, protein, serat, mineral yang terkandung dalam umbi-umbian dan sayuran belum dimanfaatkan dengan maksimal.

"Tingkat konsumsi pangan lokal oleh masyarakat Indonesia dinilai masih kurang. Padahal, produk pangan lokasi di Tanah Air mengandung gizi tinggi," ungkapnya usai penandatanganan nota kesepahaman antara FTP UGM dengan Foodbank of Indonesia (FOI), Jumat (26/4/2019).

Eni mengakui gaya hidup dan status sosial menjadikan kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dan instan semakin tinggi. Di lain hal, angka kelaparan juga masih cukup tinggi yang menandakan masih adanya kesenjangan pangan di wilayah Indonesia. "Ini kan sebenarnya justru menjadi kekuatan kita karena nilai gizi yang baik itu bukan hanya pada satu makanan tapi pada penganekaragaman makanan," lanjut Eni.

Dalam kerjasama tersebut, FTP UGM bersama FOI akan melakukan pendampingan terhadap keamanan, pengolahan pangan lokal, serta edukasi dan sosialisasi nilai gizi yang bisa dilakukan oleh masyarakat.

Ketua Pembina FOI, Muhammad Hendro Utomo mengatakan, pola perilaku mengonsumsi makanan cepat saji dan instan tidak hanya terjadi pada masyarakat urban, namun juga telah bergeser ke pedesaan. Fenomena ini seolah menjadi budaya dari sebagian masyarakat dan tentu akan berdampak pada kualitas tumbuh kembang anak.

"Semakin sering mengkonsumsi makanan siap saji, maka status sosialnya semakin tinggi pula.  Padahal makanan cepat saji yang tinggi lemak, tinggi kadar gula, dan terkadang mengandung bahan pengawet.  Jadi itu yang barangkali yang mesti kita galakkan untuk kembali mempopulerkan pangan lokal melalui kreativitas mengolah bahan pangan lokal," paparnya.

Hendro menambahkan FOI bersama FTP UGM melalui program Sayap Dari Ibu (SADARI) menginisiasi suatu langkah kerjasama untuk melakukan pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi pangan di desa Pucungsari sebagai pilot project. Hal ini merupakan suatu gerakan edukasi dan aksi untuk membuka akses pangan yang layak terutama bagi anak-anak. 

"SADARI Didukung pula dengan upaya pemberdayaan ekonomi rumahan masyarakat desa dan pertanian. Upaya ini dilakukan untuk membantu mendorong kemajuan teknologi berbasis pangan lokal, dengan menggerakkan kaum perempuan sebagai penjaga ketahanan pangan keluarga." (Tom)