Ragam Editor : Agus Sigit Jumat, 26 April 2019 / 16:32 WIB

Misteri, Akik Hijau Lumut Penjual Bakso Bikin Laris Manis

PASAR itu ramai setiap pagi. Tentu saja beragam dagangan tumpah ruah di situ untuk dikomersialkan. Selain dijual barang-barang kebutuhan rumahtangga, juga ada los penjualan batu akik. Lokasinya di luar pasar.

Waktu itu sedang booming batu akik, sehingga lokasi itu terbilang amat ramai. Berjenis-jenis batu akik dijual. Dari kecubung, kul-buntet, mata kucing sampai merah delima. Tentu saja yang disebut belakangan ini harganya mencapai puluhan juta. Itu kalau barangnya asli. Tapi jarang orang berhasil menjumpai akik itu. Konon akik itu memiliki khasiat yang hebat. Bahkan ada yang mengatakan, pemakainya bisa kebal akan senjata tajam dan peluru timah. Faktanya, yo embuh.

Tapi harus diakui, banyak orang meyakini akan khasiat akik-akik berkualitas. Kecubung pengasihan misalnya, dipercaya mampu membuat pemakainya dikasihi banyak orang. Yaaah, bisa saja begitu kalau si pemakai memang bertabiat santun dan welas asih terhadap sesama. Tapi kalau si pemakai ternyata orang pemberang dan tak menghargai sesama, mana mungkin akik kecubung kasihan punya daya.

Pagi itu, Pasar Suruh ramai sekali. Pun di konter-konter akik. Pak Bunder (bukan nama sebenarnya) yang kerjanya jadi pedagang bakso dorong suka mangkal di depan los para penjual akik. Awalnya, Pak Bunder menyikapi biasa-biasa atas fenomena akik yang laris manis kala itu.

Tapi akhirnya, hatinya luluh juga untuk ikut-ikutan mencermati keindahan batu akik yang dijual di situ. Tergerak oleh hatinya yang ngebet untuk memakai akik menarik, Pak Bunder membeli satu cincin akik berwarna hijau lumut. Pak Bunder tak peduli nama akik itu. Hanya suka warna dan embannya yang menarik saja.

Akik lalu dipakai saat itu juga. Apa yang terjadi kemudian? Entah dari mana datangnya, datang serombongan orang merubung gerobak baksonya. Hanya dalam tempo singkat baksonya laris manis. Setelah rombongan itu hengkang, ada lagi beberapa orang pembeli datang. Pak Bunder merasa bersukacita. “Nasib mujur ini, apakah karena saya memakai cincin akik ini, ya…?” pikirnya.

Tidak seperti biasanya, hari belum terlalu sore, Pak Bunder sudah pulang kandang. Esoknya, akik itu dipakainya lagi saat berjualan bakso. Ekh, hasilnya seperti kemarin. Laris manis. Padahal kualitas bakso Pak Bunder biasa-biasa saja. Pak Bunder amat bersyukur.

Masih belum yakin akan khasiat akik. Suatu hari dia sengaja berjualan dengan tidak mengenakan batu akik. Lhadalah, hasil penjualannya jeblok. Pak Bunder yang otaknya memang pinter, lalu mengembangkan usahanya. Hidupnya menjadi lebih ngglenter dibanding sebelumnya. “Matur nuwun, Gusti Allah. Akik ini cuma perantara rezeki, namun yang menentukan tetap Panjenengan Dalem.” (Oei Tjong Hoo/Jbo)