DIY Editor : Danar Widiyanto Jumat, 26 April 2019 / 14:50 WIB

Tanda Bahaya Gemparkan RSUP Sardjito, Banyak Bocah Menangis

SLEMAN, KRJOGJA.com - Seorang bocah perempuan menangis tersedu-sedu lantaran mendengar bunyi alarm peringatan tanda bahaya di gedung Tempat Penitipan Anak (TPA) Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Dr Sardjito pada Jum'at (25/04/19). Pasalnya sang anak panik saat berada di dalam ruangan tersebut. Tangisannya bahkan  semakin keras meski sudah keluar dari gedung TPA.

Hal itu tampak dalam proses simulasi evakuasi memperingati hari kesiapsiagaan bencana Nasional 2019. Dan RSUP Dr Sardjito turut berpartisipasi dengan mengadakan simulasi bencana baik kebakaran maupun gempa bumi.

"Jadi hari ini kita berpartisipasi dalam rangka memperingati hari kesiap siagaan bencana nasional tahun 2019. Untuk skenarionya kita mengaktifkan seluruh alarm gedung dirumah sakit ini baik yang perawatan maupun yang non perawatan. Kemudian khusus yang diperkantoran kita anjurkan untuk melakukan evakuasi," kata Ruwanto penanggung jawab keselamatan kerja RSUP Dr Sardjito kepada KRjogja.com.

Setelah dilakukan simulasi evakuasi, pihaknya melanjutkan dengan melakukan brifing evaluasi. Pada tahap tersebut, dievaluasi apakah pada saat simulasi sebelumnya terdapat kendala atau tidak.

"Alhamdulilah dalam kesiapsiagaan jalur jalur darurat, tangga darurat, jalur evakuasi semua dalam keadaan siap pakai di sini," tuturnya.

Menurutnya, semua alarm yang ada di RSUP Sardjito turut dibunyikan, namun untuk bagian gedung administrasi pusat, dianjurkan untuk melakukan evakuasi diri. "Ini kurang dari 3 menit semua karyawan di kantor sudah bisa keluar. Jadi secara umum insyaallah kita semua selamat," katanya lagi.

"Pasien yang di bangsal kita tidak lakukan evakuasi pada simulasi ini, tetapi yang di perkantoran ketika alarm dibunyikan kita harap peransertanya untuk keluar sebentar kira-kira apa yang terjadi sehingga ada respon kalau ada kondisi darurat," lanjutnya.

Mulanya para karyawan tidak diberi tahu tentang simulasi bencana tersebut, sehingga pihak penyelenggara dapat menilai kesiapan seseorang untuk menghadapi bencana.

Secara umum, menurut Ruwanto para karyawan tidak panik, karena setiap tahun mininal dua kali, pihaknya selalu melakukan simulasi sehingga mereka dalam keadaan siap siaga.

"Hanya saja adik-adik TPA baru kali ini kita libatkan, sehingga ada yang nangis itupun kemarin kita sudah gladi resik sebenarnya termasuk diajak menonton video evakuasi. Tapi ya namanya anak-anak tadi mau keluar mereka ada yang enggak mau, enggak pakai sandal harus pakai sandal. Padahal pakainya agak lama. Jadi kendalanya ada dianak-anak karena baru kali ini anak kita libatkan untuk simulasi evakuasi," jelasnya.(Ive)