DIY Editor : Ivan Aditya Kamis, 25 April 2019 / 18:37 WIB

Cak Nun Minta Elit Politik Belajar Prinsip ‘Tempe Bosok’

BANTUL, KRJOGJA.com - Budayawan Emha Ainun Najib atau yang akbar disapa Cak Nun menanggapi kekhawatiran adanya chaos pada tingkat bawah apabila nantinya keputusan KPU tentang presiden terpilih dinilai tak menguntungkan salah satu pihak. Cak Nun yang baru saja selesai menggelar syafaat macapat di 15 daerah menilai tak ada kekecewaan berlebih tentang siapapun yang menjadi presiden untuk memicu terjadinya ‘people power’.

“Setidaknya dari 15 daerah mulai Lumajang, Bangkalan, Surabaya, Semarang, Solo, Cilacap, Kudus, Jepara hingga Temanggung tidak ada masalah. Kita sebagai rakyat, kita jamin tidak bentrok,” ungkap Cak Nun saat berbincang di Rumah Maiyah Kadipiro, Kamis (25/04/2019).

Cak Nun mengungkap saat ini rakyat tidak sedang bingung lantaran adanya saling klaim dari dua calon yang merasa menang berdasar survei masing-masing. Ia hanya menilai para elitlah yang sebenarnya bermasalah dan berupaya membentuk opini publik seakan-akan terjadi hal yang tak diinginkan apabila salah satu kalah.

“Presiden ra cocok karo pilihane kui ra masalah (presiden tidak cocok dengan pilihannya itu tidak masalah). Rakyat kita itu top lah, tak masalah, dikongkon sengsoro we gelem (disuruh sengsara saja mau). Nah mudah-mudahan Pancasila dilakukan, dicamkan betul oleh elit yang ada di atas,” sambungnya.

Dalam bincang santai tersebut, Cak Nun turut menyampaikan permintaan agar elit politik dan masyarakat kalangan menengah ke atas belajar tentang prinsip ‘tempe bosok’ yang menurut dia menjadi filosofi sehari-hari rakyat. Menurutnya jika kita hanya mampu makan dengan lauk 'tempe bosok', demikian halnya dengan kehidupan bahwa masyarakat harus menerima apapun yang telah diberikan oleh-Nya.

"Kalau rakyat itu kepingin sop buntut anane ming (adanya hanya) ‘tempe bosok’ ya dipangan (dimakan), ditampa (diterima) dengan legowo. Dinikmati tidak ada masalah. Dalam hidup coba saya tanya, banyak yang anda capai atau tidak? Harusnya elit politik ya berguru pada rakyat, presiden kui ngrungokke rakyat (presiden itu mendengarkan rakyat). Yang tak legowo itu bukan rakyat tapi para penyembah nafsu kekuasaan di atas,” ungkap Cak Nun lagi.

Cak Nun pun kembali mengingatkan bawasanya di ranah bawah, masyarakat tidak akan melakukan tindakan tak diinginkan seperti chaos yang dikhawatirkan beberapa pihak belakangan. Namun Cak Nun tetap meminta seluruh elemen masyarakat dan elit politik untuk menjalankan makna Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Mau 01 mau 02 tujuannya mengabdi untuk rakyat Indonesia jadi ya diterima saja apapun yang terjadi nanti. Monggo saja deklarasi atau sujud syukur. Masyarakat yo ora popo (tidak apa-apa), tidak ada masalah yang serius, kalau ada chaos itu hanya di rakyat menengah keatas itupun tidaklah kalau bentrok fisik,” lanjut pemimpin Kiyai Kanjeng ini.

Kontestasi pemilu 2019 yang ditanggapi berbagai macam oleh banyak pihak juga menurut Cak Nun memiliki pedoman negara dalam bentuk undang-undang yang bisa dirujuk di kemudian hari. “Wes ono (sudah ada) wasite yo KPU, pengawase yo ono (juga ada) Bawaslu, isih (masih) diawasi MK, kabeh wes ono tatanane (semua sudah ada tatanannya),” pungkasnya. (Fxh)