Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 23 April 2019 / 19:50 WIB

HUT ke -1 Istana Mataram Bahas Pelestarian Adat Hingga Kemiri Sunan

SOLO, KRJOGJA.com - Prosesi peringatan hari ulang tahun Yayasan Istana Mataram yang pertama, bukan hanya  diisi dengan kembul bujana serta berkumpulnya trah Dinasti Kraton Mataram saja.

Namun lebih dari itu juga dimaknai dengan membahas evaluasi selama satu tahun kegiatan yang telah dilakukan, diantaranya pembangunan cagar budaya, adat dan tradisi kraton yang merupakan peninggalan leluhur. 
Hasil kerja nyata para gusti dan sentana dalem diantaranya berhasil menghimpun dana abadi kemudian dikirim langsung ke nomor rekening ratusan abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta sebagai gaji abdi dalem.

Selain itu juga secara mandiri mensuport dana renovasi atap
 Siti Hinggil, Kraton Surakarta dengan bimbingan teknis dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

G.K.R. Wandansari atau Gusti Moeng didampingi Dr KP Wirabumi, SH, MM, selaku ketua dewan pakar Istana Mataram , Selasa (23/4/2019) mengatakan, acara  ulang tahun Istana Mataram  berlangsung pada Sabtu 13 April 2019 dihadiri tujuh perwakilan kerajaan diantara kerajaan Indrapura, Bali, Istana Maimoon Medan dan kerajaan Banjar. "Itu sebuah penghargaan dari kraton se Indonesia yang mengapresiasi kegiatan trah Mataram dinasti Kraton Kasunanan Surakarta,"ujar Kanjeng Wira, panggilan akrab dari Dr KP Wirabumi, SH, MM.

Prosesi ulang tahun  di buka dengan tarian  Suka Mulya ciptaan GKR Wandansari, selain itu juga ada tarian dari Bali.

Dipaparkan Kanjeng Wira tentang pembangunan cagar budaya yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah. Tetapi berhubung situasi dan kondisi saat ini pemerintah khususnya pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Direktorat Jendral Kebudayaan, Kemendikbud yang belum memungkinkan, maka disarankan untuk melakukan pembangunan secara mandiri. Atap Siti Hinggil, Kraton Surakarta sudah rusak, kondisinya cukup mengkhawatirkan.

"Sehingga Sitihinggil, yang dibangun oleh Sunan Paku Buwono X pada tahun 1913 direnovasi dengan supervisi dari BPCB agar sesuai dengan kaidah renovasi bangunan yang dilindungi Undang-Undang cagar budaya," tutur Kanjeng Wira.

Mendengar keluhan abdi dalem, para gusti yang  tergabung dalam Istana Mataram bergerak cepat dengan  memberikan gaji kepada para sentana dan abdi dalem kraton, melalui akun rekening bank, kepada setiap abdi dalem baik yang mengabdi di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta maupun yang berada di pajimatan makam raja-raja Kraton Surakarta di Imogiri.

Selain masalah adat para sentana dalem yang kebanyakan berprofesi pengusaha sesuai deklarasi didirikan Istana Mataram, setahun lalu yakni mengawali  gerakan  bernama New Era of economic Culture and Tourism Programmes, lanjut Kanjeng Wira, memfokuskan energi terbarukan 
 tentang budidaya Kemiri Sunan (Reutealis trisperma).

Buah kemiri sunan bisa digunakan sebagai bahan bakar nabati (BBN) dan sumber biodiesel.
 

"Kami juga berpartisipasi untuk budidaya kemiri sunan yang sebenarnya sejak tahun 2012 telah dilakukan 
baik dari proses pembibitan, penanaman sampai dengan pemetikan buah, serta pemasarannya. (Hwa)