DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 23 April 2019 / 15:33 WIB

Pemda DIY Siap Bentuk Grosir Pangan

YOGYA, KRJOGJA.com - Pemda DIY berencana membentuk grosir pangan DIY pada 2021 mendatang untuk memotong panjangnya mata rantai atau jalur distribusi komoditas bahan pangan. Kehadiran grosir pangan DIY ini akan memudahkan masyarakat mengakses kebutuhan pangan langsung dari produsen sehingga harga lebih terjangkau.

"Kita mempunyai inisiasi kemungkinan DIY mempunyai grosir pangan. Tetapi ini masih kajian awal dan kita masih banyak perlu referensi rencana pembentukan grosir pangan DIY tersebut," kata Kepala Biro Administrasi, Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti.

Menurutnya, akses ke pedagang-pedagang kecil justru akan diprioritaskan dalam grosir pangan DIY, namun tetap akan dilakukan pembatasan pembelian setiap harinya. Rencananya kehadiran grosir pangan ini tidak hanya di provinsi, tetapi jika memungkinkan bisa dihadirkan di setiap kabupaten/kota yang ada di DIY.

"Rencana pembuatan grosir pangan di DIY ini mencontoh yang sudah ada di Jakarta. Semua komoditas pangan langsung dari produsen masuk ke grosir pangan tersebut, sehingga aksesnya tidak melalui beberapa titik alias memotong mata rantai distribusi pangan yang cukup panjang. Jadi harapannya semua komoditas pangan langsung bisa diakses oleh masyarakat melalui grosir pangan tersebut langsung dari produsen," jelas Made.

Grosir pangan ini bisa memudahkan dan bisa diakses masyarakat prasejahtera yang mempunyai berbagai kartu jaminan. Untuk itu, Pemda DIY sedang menyusun berbagai kajian awal seperti penyiapan bahan, dokumen, potensi, lokasi, kelembagaan dan lain-lain.

"Kami hanya ingin memotong mata rantai distribusi komoditas pangan yang terlalu panjang sekaligus bisa memangkas biaya operasional. Jika dirangkai, jalur distribusi ada 9 mata rantai yang harus dilalui komoditas pangan dari produsen agar sampai kepada konsumen akhir atau masyarakat," tegas Made.

Upaya pemangkasan rantai distribusi ini, menurut Made terkait dengan inflasi terutama untuk logistik atau distribusi. Apabila distribusi terganggu seperti minimnya kapasitas angkut, komoditas pangan kurang memenuhi standardisasi, akan berpengaruh kepada kelangkaan komoditas pangan sehingga berpengaruh terhadap harga.

"Dinas Perhubungan (Dishub) DIY telah melakukan monitoring rutin terhadap distribusi pangan yang diangkut atau didatangkan dari luar DIY. Kita sudah petakan dan diharapkan semua bisa terjaga dari hulu ke hilir sehingga memudahkan masyarakat mengakses komoditi pangan," imbuhnya. (Ira)