Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 23 April 2019 / 14:22 WIB

Warga Klaten 'Kapok' jadi Petugas KPPS, Ini Penyebabnya

KLATEN, KRJOGJ.com - Diduga  kelelahan menjalankan tugas Pemilu, Tukijo, Petugas Linmas TPS 11 Mutihan, Gantiwarno dan seorang relawan Safrudin dari Krapyak meninggal dunia. Sedangkan Wiwid Wijayanti, anggota PPK Jatinom, mengalami keguguran kandungan.

Akibat tugas marathon tanpa adanya perhatian dari sisi kesehatan tersebut, sejumlah warga mengaku kapok tak mau lagi menjadi petugas Pemilu mendatang, jika sistem yang digunakan masih seperti Pemilu tahun 2019.

BACA JUGA :

91 Petugas KPPS Gugur, Wapres Minta Pemilu Serentak Dievaluasi

Tiga Petugas Penyelengara Pemilu di Banyumas Meninggal

 

Pantauan KRJOGJA.com di lapangan Selasa (23/4), sejumlah petugas Pemilu mengaku sudah sangat kelelahan, namun memaksakan diri tetap bekerja mengejar target pleno, tanpa memperhatikan kesehatan mereka. Selain itu, juga sangat disayangkan, karena Pemkab Klaten tidak menurunkan tim medis untuk memantau kesehatan para petugas Pemilu tersebut

Ketua PPK Wedi Sriyono dan Ketua PPK Klaten Selatan Topo Wiyadi mengemukakan, sangat berharap pemerintah menerjunkan tim medis ke PPK untuk memantau kesehatan para petugas, namun hingga kemarin belum pernah ada petugas medis yang datang. 

"Kalau kita mau meninggalkan ini (surat suara) takut, ini dokumen negara. Sebaiknya dari Dinas Kesehatan yang datang memeriksa kesehatan teman-teman penyelenggara. Jujur, lelahnya luar biasa,” kata  Topo Wiyadi.

Sejumlah petugas KPPS maupun PPK mengaku kapok, tak mau lagi menjadi petugas pada Pemilu mendatang, jika sistem masih seperti sekarang. Hal ini dikarenakan sistem Pemilu 2019 sangat berat, menguras energi dan tidak memperhatikan dari sisi kesehatan.

Asisten I Sekda Klaten dr Rony Roekmito saat dikonfirmasi mengemukakan, tidak berani mengirimkan tim medis, karena tugas memfasilitasi pihak pemerintah kepada KPU sudah ada aturanya. (Sit)