Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 21 April 2019 / 18:25 WIB

Indonesia Bawa Pulang Piala Trinity Colllege AS

JAKARTA, KRJOGJA.com - Tim Robotik mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih 
kemenangan dalam “Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest di Trinity College  Hartford”, Amerika Serikat pada 13-15 April 2019.

Mereka memenangkan dua jenis kategori,  yaitu kategori Robot Berkaki (juara 1 dan 2) dan kategori Robot Beroda (juara 2). 

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyambut kedatangan mereka di
Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Kemenristekdikti pun akan memberikan penghargaan kepada seluruh anggota.

“Kami punya  beasiswa ekstrakulikular, kedua pada tanggal 02 Mei mereka akan dihadirkan dan diberi apresiasi,” tutur Didin Wahidin, Didin Wahidin, Direktur Kemahasiswaan, Belmawa. 
Penghargaan rencananya akan diberikan langsung oleh Menristekdikti, Moh. Nasir, serta Dirjen Belmawa, Ismunandar.

Didin menambahkan, generasi muda memang semestinya memiliki kepercayaan diri. “Bangsa ini 
adalah bangsa besar yang siap bertanding dengan bangsa lain dan siap bersanding dengan bangsa 
lain,” ujarnya.

Anggota Tim Robotika UMM itu terdiri dari lfan Achmadillah Fauzi sebagai perancang pemograman, Rohmansyah sebagai perakit perangkat keras, serta seorang perempuan bernama 
Ken Dedes Maria Khunty yang mengurusi bagian mekanik. 
Kunci keberhasilan sebagai tim yang jadi juara dunia ialah koordinasi.

“Koordinasi itu harus, terutama dari mas Rohman dan Mbak Ken di awal-awal itu harus sesuai dengan keputusan riset 
masing-masing,” ujar Fauzi.

Koordinasi itu menghasilkan setidaknya dua keunggulan yang menjadikan robotnya mampu menjungkalkan tim pesaing dari negara-negara lain, seperti Tiongkok yang menjadi saingan 
berat. Keunggulan pertama mereka ialah soal dimensi robot yang cukup kecil. Sehingga manuver 
di setiap ruangan dan rintangan dapat lebih akurat. 

“Kita membandingkannya dengan di Indonesia, jadi di Indonesia itu rintangannya selalu rumit.  Jadi untuk robot yang besar, itu selalu menabrak rintangan. Jadi oke, kita gimana caranya bikin robot kita sekecil mungkin,” tutur Fauzi.

Keunggulan kedua ialah soal robot berkaki yang memiliki tantangan kesulitan tersendiri dalam pergerakannya. (Ati)