DIY Editor : Agus Sigit Sabtu, 20 April 2019 / 12:10 WIB

Pengangguran dan Ketimpangan Tantangan Presiden Terpilih

YOGYA, KRJOGJA.com - Situasi ekonomi yang dihadapi pemerintahan baru tidak mudah, seperti yang dihadapi dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi yang hanya pada kisaran 5 persen dengan realisasi selalu di bawah target APBN. Tentu tidak mudah untuk menyelesaikan persoalan ekonomi besar lima tahun ke depan. Termasuk persoalan yang sudah akut dalam ekonomi nasional, seperti kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan.

"Selama ini, Presiden Joko Widodo sangat konsen dengan pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah. Karena itu, seandainya nanti terpilih lagi, pembangunan infrastruktur akan semakin masif. Pembangunan infrastruktur ini penting karena bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Bahkan berdasarkan pengalaman bisa menjadi <I>leading sector<P> yang menarik pertumbuhan sektor ekonomi lainnya," kata Dosen Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc dalam Seminar 'Perekonomian Indonesia Pasca-Pemilihan Presiden 2019, Prospek dan Tantangan' di Fakultas Ekonomi UII, Kamis (18/4).

Seminar yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi UII dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta serta didukung SKH Kedaulatan Rakyat ini, menghadirkan narasumber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sri Fitriani, Robby Kusumaharta (pengusaha) dan Prof Lincolin Arsyad PhD (Guru Besar FEB UGM), dengan moderator Ronny Sugiantoro MM (Wapemred KR).

Lincolin Arsyad mengatakan, perekonomian Indonesia telah mengalami transformasi menjadi ekonomi jasa. Karena pada tahun 2014 kontribusi sektor jasa sudah lebih dari 50 persen. Salah satu implikasinya adalah meningkatnya kebutuhan pada tenaga terdidik dan terampil. Karena itu di masa mendatang, investasi di bidang sumber daya manusia (SDM) harus terus diprioritaskan dan menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi presiden terpilih. Salah satu cara untuk mewujudkan hal itu bisa dilakukan lewat otonomi Perguruan Tinggi, dana penelitian ditambah dan pembuatan laporan dibuat mudah.

"Jasa pendidikan sekarang sudah memiliki kontribusi 3,2 persen. Artinya pendidikan di Indonesia saat ini sudah menjadi lahan bisnis, buktinya banyak konglomerat membuat sekolah unggulan. Hal itu menjadi indikator bahwa kompetensi dan skill menjadi faktor penting agar eksis dalam persaingan," ungkap Lincolin.

Dari kiri: Prof Lincolin Arsyad PhD (paling kiri), Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, Ronny Sugiantoro MM, Sri Fitriani dan Robby Kusumaharta. Foto: Franz Boedisukarnanto

Sedangkan Sri Fitriani mengungkapkan, walaupun secara umum kondisi ekonomi global kurang bagus, tapi kondisi perekonomian Indonesia membaik. Apabila dilihat dari perkembangan sekarang, dirinya optimis, pertumbuhan ekonomi khususnya di DIY pada tahun 2019 akan menjadi lebih baik. Semua itu akan bisa diwujudkan apabila konsumsi, ekspor dan investasi di DIY bagus.

"Perlambatan ekonomi dunia tercermin dari harga-harga sejumlah komoditas. Harga minyak dunia mengalami penurunan, selain itu pertumbuhan Euro juga mengalami perlambatan. Namun dengan adanya bandara baru di Kulonprogo diharapkan pertumbuhan perekonomian DIY bisa meningkat," terangnya.

Sementara itu Robby Kusumaharta menambahkan, ekspor menghadapi tantangan persaingan global yang sangat ketat. Kondisi itu menjadi tantangan bagi pemerintah dan para pengusaha untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia. Selain pengelolaan potensi sumber daya alam (SDA) perlu terus dioptimalkan, kualitas dan kompetensi SDM juga harus ditingkatkan. Karena tidak bisa dipungkiri SDM memiliki kontribusi cukup besar dalam mendukung peningkatan perekonomian yang di dalamnya termasuk ekspor.

"Sebagai pengusaha saya berharap, siapa pun presiden yang nantinya terpilih, hendaknya susunan kabinetnya bisa menjawab tantangan ekonomi. Karena tantangan perekonomian yang harus dihadapi Indonesia semakin kompleks. Misalnya untuk meningkatkan nilai ekspor, pengusaha dituntut bekerja keras dan cermat dalam membaca peluang, belum lagi terbentur dengan peraturan yang cukup rumit," ungkap Robby. (Ria)