Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Jumat, 19 April 2019 / 17:10 WIB

BRTI Larang Penjualan Fake BTS, Ini Sebabnya

Trafik data selama Pilpres 2019, yakni pada 17 April 2019, meningkat ketimbang hari biasanya. Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat diresahkan dengan penyebar informasi negatif melalui SMS palsu atau blast SMS via mobile blaster atau fake BTS.

Jumlah penyebaran konten negatif melalui SMS palsu atau blast SMS, bahkan semakin tumbuh ketika menjelang Pemilu pada 17 April 2019.

Agung Harsoyo, Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengatakan, Kominfo dan BRTI sudah memonitor perkembangan isu yang meresahkan ini.

Untuk sekarang, Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio (Balmon) tengah bekerja untuk memantau perkembangan penggunaan fake BTS tersebut.

Menurut Agung, penyebar SMS palsu dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan teknologi IT yang dinamakan mobile blaster atau fake BTS.

Dengan perangkat tersebut, oknum yang tak bertanggung jawab bisa mengirimkan pesan singkat SMS kepada pelanggan tanpa izin operator maupun pemilik nomor yang sesungguhnya.

"Yang melakukan penyebaran SMS itu bukan operator. Melainkan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab yang memiliki alat mobile blaster atau kita sebut fake BTS. Dengan alat tersebut mereka bisa menyebarkan SMS seolah-olah dari pemilik resmi nomor tersebut," kata Agung dalam keterangan resminya.

"BRTI menghimbau masyarakat yang melakukan penyebaran SMS melalui fake BTS untuk menghentikan kegiatannya. Kegiatan tersebut telah  merugikan masyarakat dan melanggar UU ITE," lanjutnya.(*)