Gaya Hidup Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 19 April 2019 / 14:51 WIB

Musim Pabcaroba, Waspada Leptospirosis

JAKARTA, KRJOGJA.com - Kemenkes meminta masyarakat mewaspadai penyakit   bersumber hewan, salah satunya leptospirosis. 

Leptospirosis sendiri disebabkan oleh kencing tikus. Disampaikan Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto, di Kemenkes Jakarta Kamis (18/4 2019).

Menurutnya infeksi virus ini tak boleh dianggap sepele. Ia mengambil contoh, banjir di Sampang, Jawa Timur beberapa waktu lalu membuat sembilan orang meninggal dunia karena infeksi leptospirosis ini. "Wilayah Jakarta Timur paling rentan sebagai tempat penularan leptospirosis ini. Pernah di Sampang, Jawa Timur saat banjir ada sembilan orang meninggal dunia karena penyakit vektor ini," ujar Yuri .

Gejala dari infeksi leptospirosis ini sendiri, kata Yuri meliputi demam tinggi, muntah, lemas, dan nyeri di otot betis, mata berwarna kekuningan. Jika tak segera ditangani, bukan tidak mungkin kata Yuri, infeksi ini bisa berkembang menjadi penyakit kronis.
"Penyakit ini tidak boleh diabaikan. Pencegahannya tentu pola hidup bersih dan sehat. Hindari bermain di genangan air saat banjir karena musim hujan atau gunakan alas sepatu untuk menghindari infeksi secara langsung," tandas dia.

Peningkatan kasus DBD berkorelasi dengan tingkat kelembapan tinggi.
Sedangkan hasil pengkajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan peningkatan kasus penyakit demam berdarah berkorelasi dengan tingkat kelembapan yang tinggi di suatu lokasi.
Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan Klimatologi BMKG Marjuki di Kemenkes  Jakarta, Kamis, (18/4 2019)  .

Kecocokan antara data kelembapan udara di DKI Jakarta yang lebih dari 75 persen dengan jumlah kasus DBD yang meningkat di wilayah tersebut.
“Yang paling memengaruhi terkait kasus DBD bukan curah hujan, malah kelembapan udara,” kata dia.

Marjuki mengungkapkan pengkajian yang bekerja sama dengan sejumlah lembaga tersebut menunjukkan kecocokan iklim dan cuaca dengan pertumbuhan perkembangbiakan nyamuk.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Achmad Yurianto mengatakan kelembapan udara di atas 75 persen menjadi musim kawinnya nyamuk untuk kemudian berkembang biak jadi lebih banyak.“Ini jadi jawaban kenapa di Arab Saudi nggak ada nyamuk karena sangat kering. Dan kenapa di hutan banyak banget nyamuknya karena kelembapannya tinggi,” kata Yurianto.

Dia menyebutkan hasil kajian ini akan dijadikan suatu model untuk upaya pencegahan guna mengurangi risiko kasus demam berdarah.“Kita harapkan, kalau kita sudah punya polanya sebelum itu sudah menuju kelembapan sekian kita harus gencar sosialisasikan ke masyarakat, promosikan kesehatan. Bukan setelah kejadian baru kita cari nyamuknya,” jelas dia.

Dia mengatakan Kementerian Kesehatan mengevaluasi kejadian bencana yang terjadi pada 2018 sebagian besar karena hidrometeorologi yang seharusnya dapat diantisipasi.
Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes yang

biasanya menjadi induk penanganan bidang kesehatan saat bencana kini mengupayakan antisipasi risiko bencana ketimbang upaya kuratif.(ati)