DIY Editor : Agung Purwandono Kamis, 18 April 2019 / 00:35 WIB

Derita Mahasiswa Pemilih A5 di Yogya, Menjadi Nomor Dua Hingga Tak Dapat Surat Suara

BULAN Februari 2019, perguruan tinggi di DIY ramai-ramai melakukan sosialisasi ke mahasiswa tentang formulir A5. Mahasiswa rantau yang tidak bisa pulang ke kampung halaman saat pemilihan umum 2019 diminta untuk membuat kartu tesebut.

Berbondong-bondong mereka datang ke tempat yang sudah disiapkan kampus. Ini adalah harapan mereka untuk tetap bisa mendapat hak suara. Kartupun jadi, mereka lega. Tak perlu keluar ongkos untuk pulang, mereka tetap bisa ikut merayakan hajat terbesar pemerintah tahun ini.

Namun sayang, kelegaan mereka hilang di hari-hari menjelang pemilu. Kabar tak jelas berdatangan soal waktu pemilihan yang hanya dijatah 1 jam sebelum TPS tutup. Banyak yang menepis jika kabar itu tak benar, tapi tetap sama saja; kabar burung masih tetap berterbangan.

Di Hari H pemilihan, media sosial ramai oleh sambatan atau keluhan para mahasiswa penerima A5. Alih-alih mendapat kepastian, mereka justru kebingungan.

TPS yang tertera di kartu A5 tidak semuanya menyambut mereka dengan baik. Petugas TPS menyatakan bahwa pemilih A5 dapat kesempatan memilih setelah jam 12, pun jika surat suara masih ada.Padahal, KPU sudah memberikan informasi bahwa pemilih A5 memiliki hak suara dan boleh memilih sesuai waktu pemilihan pada umumnya.

Baca Juga : 

Sejak Awal KPU DIY Sudah Prediksi, Surat Suara Tambahan Tak Akan Cukup

Alina (21), Mahasiswi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merasakan hal yang sama. Sejak pagi, grup online kelasnya ramai dengan keluhan teman-temannya yang tidak bisa memilih sebelum jam 12.

Banyak yang merasa tidak terima dan kecewa karena tidak mendapat pengumuman resmi sebelumnya. Tak ingin merasakan hal yang sama dengan teman-temanya, mahasiswi asal Banyumas ini memutuskan datang pada pukul 12.30, setengah jam sebelum TPS tutup.

Sesampainya di TPS, Alina yang datang dengan 2 temannya justru dibuat bingung. Pasalnya, menurut petugas TPS, ia tidak bisa memilih karena surat suara habis. Padahal namanya sudah terdaftar dan sudah diperiksa sebelumnya. Heran tidak bisa mendapat kesempatan memilih, Alina lantas bertanya mengapa.

Menurut petugas, sejak awal surat suara yang tersedia hanya untuk pemilih tetap atau yang disebut DPT. Pemilih A5 akan mendapat surat suara jika terdapat surat sisa yang tidak digunakan oleh DPT.

Pada saat itu, terdapat 19 surat suara sisa dan sudah terdapat 18 pemilih yang mengantri untuk mendapatkannya. Alina dengan teman-temannya tambah kebingungan, karena dari 3 orang tersebut, hanya 1 yang mendapat kesempatan memilih.

Petugas TPS setempat kemudian memberikan saran agar Alina dan temannya pindah ke TPS lain, tak jauh dari TPS sebelumnya. Di TPS yang baru, petugas justru bingung menerima kedatangan mereka karena nama ketiganya tidak masuk daftar TPS tersebut.

Petugas lalu menghubungi kelurahan untuk meminta saran. Jawabannya, Alina tetap bisa memilih namun di TPS sebelumnya dengan alasan surat suara akan ditambah.

Alina dan kedua temannya lalu kembali ke TPS awal dan menyatakan kepada petugas bahwa kelurahan akan menambah suara. Ternyata petugas belum menerima informasi dari kelurahan.

Ketiganya lalu ditawari untuk tetap menyoblos, namun hanya 2 orang saja karena surat suara hanya tersisa 2. Dengan rela hati, salah satu teman Alina akhirnya mengalah dan memberikan kesempatan pada Alina dan satu kawan lain untuk menyoblos.

Peristiwa tersebut membuat Alina dan temannya merasa kecawa. “Tadi saya sempat merasa kecewa karena sia-sia mengurus A5 yang menurut saya bakal dijamin haknya, tapi ternyata tidak.” Tutur Alina saat dihubungi KRJogja.com, Rabu, (17/04/2019).

Selain Alina, Zelo (19) mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta asal Kalimantan Selatan juga mengalami hal serupa. Nahasnya, Zelo bahkan tidak mendapat kesempatan untuk memilih.

Padahal ia sudah datang 2 kali, pada pukul 08.00 dan 12.00. Pada waktu pertama, ia tidak mendapat jatah karena TPS 33 Karangmalang, Depok Sleman tempatnya kehabisan surat suara untuk pemilh A5 yang hanya disediakan 8 surat saja. Di waktu kedua ia gagal lagi, karena ia tidak mendapat surat suara sisa DPT yang tidak bisa memilih.

Zelo juga sempat disarankan untuk ke TPS lain, namun ternyata TPS lain juga tidak menerima karena namanya tidak terdaftar. Tidak mau pusing terhadap sistem yang tidak jelas, Zelo memilih untuk golput di pemilu tahun ini.

Sebelumnya ia ditawari untuk komplain langsung ke KPUD Sleman. Namun ia menolak karena berujar akan mendapat perlakuan yang sama, yakni di oper ke tempat lain yang akan membuatnya semakin bingung.

“Zelo bingung kok bisa terjadi karena kan datanya sudah masuk dan kurangnya beribu-ribu seolah-olah yang A5 tidak masuk. Berarti sama aja dong, yang ngurus A5 sebenernya nggak disedian surat suara. Tadi juga ada kerancuan soal yang nyoblos pake E KTP doang, masa mereka bisa tapi yang A5 enggak. Berarti mending nggak usah ngurus A5 dong,” ujar Zelo, mengungkapkan dengan nada kesal.

Mahasiswi yang sedang menempuh studi di Pendidikan Teknik Sipil tersebut berharap tidak ada kejadian serupa di pemilu berikutnya. Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena ketidaksiapan KPU melaksanakan sistem tersebut. (Aninda Sofi Aura).