DIY Editor : Agung Purwandono Rabu, 17 April 2019 / 22:16 WIB

Mahasiswa Yogya Tak Bisa Mencoblos Karena A5, Ini Faktanya

YOGYA, KRJOGJA.com - Media sosial di Yogyakarta khususnya twitter di ramaikan keluhan mahasiswa rantau yang memegang formulir A5 atau Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) namun tidak bisa menggunakan hak suaranya. Mereka ditolak oleh TPS karena habisnya surat suara.

Kicauan di twitter misalnya 

https://twitter.com/gabisaganti/status/1118393879412322305

 

Bahkan muncul petisi yang diinisiasi mahasiswa melalui change.org dan menuntut untuk diadakan Pemilu ulang bagi para pemegang formulir A5 yang terpaksa golput karena kurangnya surat suara pada pelaksanaan 17 April 2019.

Data yang dimiliki KRjogja.com sendiri, pemilih di DIY untuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai 2.731.874. Sedang DPTb mencapai 45.544 pemilih. Dari jumlah DPTb tersebut lebih dari separuhnya atau 25.598 berada di Kabupaten Sleman.

Sebanyak 11.742 DPTb di Kabupaten Sleman berada di Kecamatan Depok yang setidaknya terdapat 23 perguruan tinggi. Sehingga dipastikan sebagian besar DPTb atau pemegang formulir A5 adalah mahasiswa.

KRjogja.com melakukan pengecekan informasi tersebut dengan melakukan wawancara dengan Ketua KPU Provinsi DIY Hamdan Kurniawan. Ia mengatakan surat suara tambahan di setiap kabupaten di DIY sudah diprediksi tidak akan cukup menambal pemilih yang terdaftar sebagai DPTb. Kondisi ini yang menyebabkan banyaknya TPS, terutama di Kabupaten Sleman kekurangan surat suara.

"Dua persen surat suara tambahan di setiap kabupaten di DIY tak akan cukup untuk menambal pemilih yang terdaftar sebagai DPTb," kata Hamdan.

Pihaknya sejak awal sudah memprediksi akan kurangnya surat suara tambahan ini. "Sejak pengiriman memang diprediksi akan kurang walaupun kami sudah melebihi 2 persen surat suara di setiap kabupaten. Sehingga ini tanggung jawab kami, kami carikan (surat suara tambahan) ke TPS-TPS di sekitaran situ atau beda desa atau bahkan beda Kecamatan," tambahnya.

Menurut Hamdan Kurniawan, ia menugaskan ke semua komisioner KPU untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi. Ia menjelaskan, pihaknya perlu melakukan investigasi lebih lanjut. Karena pemilih dari luar yang menggunakan hak pilihnya sangatlah banyak. Ia melihat rata-rata pemilih DPT antusiasnya sangat tinggi, mereka datang semua.

"Sehingga kalau hanya mengandalkan cadangan 2 persen kalau kemudian sisa suara bagi mereka yang tidak datang, tidak cukup menampung jumlah DPTb yg jumlahnya besar itu," ucapnya.

KRjogja.com juga menemui ratusan pemilih A5 di kantor KPU Sleman yang gagal melakukan coblosan karena kurangnya surat suara. Sebagai bentuk kekecewaan, mahasiswa maupun pemilih A5 membuat grup Whatsapp (WA)  'Korban KPU Sleman' sebagai bentuk respon lambatnya KPU Sleman dalam merespon persoalan yang mereka hadapi.

Sejak siang hari hingga malam pukul 20.10 WIB mereka berkumpul di halaman kantor KPU Sleman. WhatsApp yang berisi sekitar 257 orang ini dibuat oleh Elisabet Samosir (30).

"Menunggu kejelasan dari KPU kenapa surat suara tidak tersedia di TPS, KPPS dan Panwas yang ada di TPS tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kami," ungkapnya menjelaskan latar belakang bertahan di Kantor KPU Sleman.

Sejumlah anggota grup menyepakati beberapa hal dalam proses penuntutan tersebut. "Jika tidak ada solusi, maka kami akan sama-sama melaporkan kejadian ini ke Bawaslu," kata Elisabet.

Sekitar pukul 19.44 WIB informasi terbaru menyebutkan bahwa telah disediakan surat suara dengan jumlah 73 suara. "Teman teman relawan yg punya A5 dan E- KTP tapi belum menggunakan hak suaranya bisa datang ke TPS 37 Blok F Karang Malang UNY. Saya sudah menghubungi Syifa salah satu teman disana dan ternyata khusus diperuntukkan bagi teman-teman yang sudah mendaftar dari siang tadi dan hanya disediakan 73 surat suara," jelas Ibrena Merry Sella Purba salah satu mahasiswa.

Mahyunita salah satu anggota grup yang pernah menjabat Asisten Komesioner Bawaslu Prov. Gorontalo tahun 2012 - 2016 juga mengingatkan para penuntut yang berhasil mendapatkan hak suara, "pastikan ada saksi dan pengawas ya, foto pengawas dan saksi masing-masing paslon beserta KPPSnya disimpan buat jaga-jaga". Sampai dengan berita ini dinaikkan proses penuntutan hak suara masih terus berlangsung di Kantor KPU Sleman.

Hingga berita ini dinaikan, pukul 22.00 WIB masih ada pemilih A5 yang bertahan di Kantor KPU Sleman,. Kondisi serupa juga terjadi di Kantor Kelurahan Catur Tunggal Kecamatan Depok, Sleman. Pemilih A5 masih bertahan melakukan dialog dengan komisioner KPU Sleman. (KRA-10)