Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 18 April 2019 / 11:25 WIB

Pasien RSUD Karanganyar Terpaksa Golput

SEORANG pria bertelanjang dada terbaring lemah di sudut ruangan UGD RSUD Karanganyar, Rabu (17/4) siang. Ia memegang selembar undangan memilih atau formulir C6 sambil menatapnya sayu. Jam dinding menunjukkan pukul 13.30 WIB, menandakan waktu pemungutan suara telah lewat.

“Sejak pemilu tahun 1977, baru kali ini saya tidak memilih. Rasane gelo (kecewa),” kata Sutaryono (65) asal Perum Saraswati, Desa Gaum, Tasikmadu kepada KRJOGJA.com

Surat undangan memilih itu dikantonginya kembali ke saku kemeja yang belum lama dilepasnya untuk keperluan dokter memeriksa. Formulir C6 bersama selembar kertas tertoreh spidol biru, dibawanya serta saat masuk ke ruang UGD pada Selasa (16/4) malam. Bagi dirinya, itu modal penting memberikan suaranya di Pileg dan Pilpres 2019.

“Sebenarnya, TPS hanya dua kilo dari sini. Tapi apa daya. Di sini juga sepertinya enggak ada TPS keliling. Sudah saya catat semua yang akan dipilih. Mulai presiden dan caleg berikut nomor urutnya, agar tidak lupa,” kata pria yang didiagnosa menderita penyakit gula ini.

Saat berbincang dengan <I>KR<P>, ia sendirian. Istrinya pamit ke TPS di kampungnya. Sedangkan putra putrinya juga ke TPS masing-masing. Kondisi terpaksa golput alias tidak bisa mencoblos dialami pula warga Ngringo, Jaten, Suparti (80). Ia muntah-muntah dan mengeluh pusing sejak Sabtu (13/4). Akhirnya ia dirujuk ke RSUD bertepatan jam buka TPS.

“Uwis, ora usah ngurusi kuwi dhisik. Kesehatane luwih penting,” ujar putri Suparti bernama Sumiyati (45) saat menegur ibundanya.

Sumiyati mengatakan, ibundanya itu kecewa karena tak bisa mencoblos.

“Jalan saja nggluyuri (sempoyongan),” katanya.

Sumiyati meski menemani di RS, tetap menyempatkan diri ke TPS untuk mencoblos.

Pantauan <I>KR<P> di UGD RSUD Karanganyar, puluhan pasien terbaring di ruang tunggu pemeriksaan. Mereka masuk UGD pada Selasa-Rabu (16-17/4). Kabag TU RSUD Karanganyar, Sri Herlina mengatakan pendataan calon pemilih dari kalangan pasien sia-sia.

“KPU meminta kami mendata identitas pasien yang masuk tanggal 10-17 April. Itu tidak mungkin. Bisa saja mereka pulang maupun masuk baru di tanggal itu,” katanya.

Selain itu, KPU juga menawarkan pasien mengisi formulir A5. Ternyata, tak satupun berminat mengisinya. Namun, ia memungkinkan beberapa karyawan menggunakan kesempatan pindah TPS terdekat RSUD dengan formulir A5, untuk menyiasati tugas piket di hari pemungutan suara.

“Menurut saya lebih akomodatif TPS mobile seperti pemilu dulu. KPPS berkeliling ke bangsal-bangsal,” katanya. (Abdul Alim)