DIY Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 16 April 2019 / 07:26 WIB

Sarat Prestasi, Inilah 'Kartini' Modern Kebanggaan Indonesia (3)

RADEN AJENG Kartini atau lebih sering dikenal dengan nama RA Kartini merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi kala itu. 

Meski sudah meninggal, perjuangan wanita kelahiran Jepara 21 April 1879 selalu dikenang karena  lewat surat-suratnya memiliki arti penting bagi kedudukan wanita Indonesia. Salah satu prestasinya ditorehkan melalui buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. 

Hal ini juga yang mengilhami beberapa perempuan Indonesia untuk terus berjuang mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia. Siapa saja mereka?


5. Aries Susanti Rahayu  

KEBIASAANNYA saat kecil memanjat pohon mendorong Aries Susanti Rahayu terjun ke olahraga panjat tebing. Berbagai kejuaraan ia taklukkan. Ia pun dinobatkan sebagai spiderwomen Indonesia. Aries Susanti Rahayu atau lebih akrab disapa Ayu adalah atlet panjat tebing tanah air yang berhasil merebut medali emas dalam perhelatan Asian Games 2018 dengan catatan waktu 7.61 detik.
 
Lahir di Grobogan, 21 Maret 1995, perempuan yang sering disapa Ayu ini memang sudah punya hobi memanjat pohon. Kebiasaannya ini tidak jarang sering membuat kedua orangtuanya ikut khawatir. Saat masuk ke bangku SMP, Ayu pun mendalami olahraga panjat tebing. Saking sukanya terhadap olahraga yang biasa dilakoni pria ini, dia bahkan sempat beristirahat dari kuliahnya di Jurusan Manajemen, Universitas Muhammadiyah Semarang.  Rencanaya akan melanjutkan kembali setelah selesai mengikuti kompetisi Asian Games 2018. Pada Kejuaraan Panjat Tebing 2017 yang diselenggarakan di Tehran, Ayu memperoleh medali perunggu di nomor speed. Sempat memperoleh juara empat di Kejuaraan Dunia 2017 di Wujiang, China, Ayu menduduki posisi keempat. 
 
Ayu berhasil memperbaiki kedudukannya dengan membawa pulang medali perak di Kejuaraaan Dunia yang diadakan di Xiamen, China. Sedangkan pada Seri Kejuaraan Dunia di Moscow, Rusia Ayu meraih peringkat keempat.
 
Karier perempuan asal Desa Taruman ini semakin melambung. Pada tahun 2018 pada Kejuaraan Dunia di Tai’an, China lagi-lagi ia menyandang peringkat kedua.  Ayu memperoleh medali emas perdananya saat bertanding di Seri Kejuaraan Dunia International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup di Chongqing China. Ia berhasil mengalahkan pemanjat tebing asal Rusia, Elena Timofeeva dengan catatan waktu 7.51 detik.  Pada perhelatan Asian Games 2018, Ayu kembali menorahkan prestasi gemilang. Ia berhasil membawa pulang dua medali emas. Ayu pun dijuluki sebagai ‘spiderworman’ karena kegesitannya memanjat tebing.  

BACA JUGA :

Sarat Prestasi, Inilah 'Kartini' Modern Kebanggaan Indonesia (1)

Sarat Prestasi, Inilah 'Kartini' Modern Kebanggaan Indonesia (2)

 

Hasil itu tentu tak lepas dari usaha dan kerja keras Aries sebagai seorang atlet. Menurut Aries, selain latihan dengan keras, atlet panjat tebing juga harus berlatih dengan benar. Perempuan berzodiak Aries ini juga menambahkan, bahwa dia tidak pernah merasa cepat puas karena hal itu hanya akan menghambat potensi dirinya untuk meraih hasil yang lebih baik lagi di kesempatan berikutnya. (*)


KELUARGA 
Orangtua            : S Sanjaya dan Maryati  
 
KARIER 
Atlet

PRESTASI
Medali Perunggu, Kejuaraan Panjat Tebing Tehran 2017 
Juara 4 Seri Kejuaraan Dunia 2017 di Wujiang, China 2017 
Medali Perak Kejuaraaan Dunia yang diadakan di Xiamen, China 2017 
Juara 4 Seri Kejuaraan Dunia di Moscow, Rusia 2017 
Medali Perak Kejuaraan Dunia di Tai’an, China 2018 
Juara dunia kategori Speed Climbing, International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup Chongqing, China 2018 
Dua Medali Emas Panjat Tebing Asian Games 2018

 

6. Christina Finarsih

CHRISTINA Finarsih atau akrab disapa Finarsih namanya, memang saat ini mulai pudar dari ingatan masyarakat. Namun, pemain bulu tangkis Indonesia yang berspesialisasi di ganda putri ini menorehkan prestasi duniayang tidak bisa diremehkan.

Finarsih memenangkan beberapa gelar pada tahun 1990-an, sebagian besar dengan rekan tandingnya Lili Tampi. Gelar yang direbut diantaranya Belanda Buka (1993), Grand Prix (1993), Indonesia Buka (1993, 1994), Taipei Buka (1994), dan Kejuaraan Lingkungan kehidupan Bulu tangkis (1994, 1995). Dia juga memenangkan Asian Games 1996 dengan rekannya Eliza Nathanael. 
Finarsih dan Tampi adalah peraih medali perak pada Kejuaraan Lingkungan kehidupan IBF 1995 di Lausanne, Swiss. Mereka tersisih di proses perempat final pada Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol, dan proses 16 besar pada Olimpiade 1996 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

Dari deretan prestasi itu, yang menarik diperhatikan adalah ketika berhasil merebut Piala Uber di tahun 1996. Lambang supremasi tertinggi di sektor putri ini direbut dengan perjuangan heroik. Saat itu, Indonesia bertemu Cina di Hong Kong. Christina Finarsih tampil sebagai ganda kedua bersama Lily Tampi menghadapi pasangan Qin Yiyuan/ Tang Yongshu. Indonesia sudah unggul 2-1. Bila menang, Indonesia bakal mempertahankan gelar.

Tampil sebagai penentu, Finarsih bermain kesetanan. Lawannya pun dihabisi 15-9, 15-10. Usai meraih poin terakhir yang memastikan Piala Uber kembali ke Indonesia. Finarsih langsung berpelukan dengan Lily Tampi. Pemain dan ofisial pun menyerbunya.

Mempertahankan Piala Uber 1996 menjadi salah satu pencapaian terbaik Finarsih sejak menghuni pelatnas bulu tangkis pada 1990. Bersama Lily Tampi, dia pernah menjadi ganda putri terbaik dan peringkat pertama dunia serta tampil dua kali di Olimpiade Barcelona 1992 dengan hasil perempat final, dan Atlanta 1996 dengan mencapai 16 besar.

Talenta Fina, sapaannya, terlihat oleh seorang guru saat mengikuti Porseni SD. Mendapat saran itu, ayahnya pun memasukkan Finarsih ke sekolah bulu tangkis PB Sinar Mataram pada 1982. Perjuangan keras pun dijalani Finarsih. Setiap latihan di kawasan Kridosono, dia harus menempuh jarak sampai 25 km dengan bersepeda.

Saat libur, Finarsih tetap berlatih sendirian di rumah. Latihannya? Berlari mengelilingi sawah setiap pagi dan sore. Finarsih menolak menyerah meski jarak tempat latihan bertambah jauh saat dia dinyatakan lulus sekolah bulu tangkis dan masuk ke PB. Finarsih pun harus kos sejak kelas 1 SMP. Dia tak hanya berpisah dengan keluarga, tapi kadang mendapat cibiran dari tetangga desa.

Kariernya mulai terentang saat tampil di kejurnas junior di Surabaya pada 1983. Usai kejurnas, dia ditawari masuk Pusdiklat Ardath di Jember. Ayahnya sempat ragu karena harus melepas Finarsih yang masih berusia 11 tahun. (*)