Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 16 April 2019 / 06:20 WIB

Turbulensi Ekternal Ancam Ekonomi Indonesia

JAKARTA, KRJOGJA.com - Ekonom Universitas Gajah Mada Anggito Abimanyu mengatakan, kebijakan eksternal dan internal akan membuat  turbulensi atau guncangan bagi perekonomian nasional. Namun goncangan ekonomi yang terjadi paling besar berasal dari eksternal dibandingkan dari internal. Karena itu, pemerintah harus memiliki warning system agar bisa mempersiapan diri menghadapi situasi yang terjadi.

"Turbulensi macam- macam  paling besar turbulensi yang berasal eksternal  itu yang membuat  shok perekonomian kita, tapi kebijakan internal juga bisa membuat turbulensi," kata Ekonom Universitas Gajah Mada Anggito Abimanyu, disela sela peluncuran bukunya Menyimak Turbulensi Ekonomi: Pengalaman Empiris Indonesia, di Jakarta, Senin (15/4).

Dikatakan, turbulensi yang berasal dari eksternal bisa terdeteksi seperti rencana kenaikan tingkat suku bunga The Fed, walaupun tidak besar dampaknya selain itu turunnya perekonomian dunia  harus ada warning  perlambatan dan harus di konter sehingga fiskal maupun monoter bisa dilakukan.

Sementara yang membuat turbulensi dari internal  adalah dimana kebijakan yang dibuat kalau tidak dilakukan. Atau tidak ada kebijakan tapi  dilakukan. Bisa turbulensi  yang berasal saat membuat  UU politis dan peraturan dan kesepakatan DPR yang politis. "Setiap kebijakan pasti membuat tubulensi ekonomi.Tapi  sekarang banyak kebijakan populis yang membuat turbulensi perekonomian kita,” tegasnya.

Anggito mencontohkan salah satu  kebijakan pemerintah  yang membuat turbulensi perekonomian  yakni mempertahankan harga bensin maupun listrik, di tengah kenaikan harga minyak dunia. Padahal, keputusan ini cukup memberikan beban bagi fiskal.

"Kebijakan fiskal itu ada prinsipnya. Sekarang ini agak kehilangan. Misalnya, subsidi dibebankan ke Pertamina, PLN. Itu tak bisa di teori fiskal," kata Anggito. (Lmg)