DIY Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 15 April 2019 / 07:57 WIB

SRI MULYANI MENKEU TERBAIK ASIA, RETNO MARSUDI 'KENYANG' PENGALAMAN JADI DUBES

Sarat Prestasi, Inilah 'Kartini' Modern Kebanggaan Indonesia (2)

RADEN AJENG Kartini atau lebih sering dikenal dengan nama RA Kartini merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi kala itu. 

Meski sudah meninggal, perjuangan wanita kelahiran Jepara 21 April 1879 selalu dikenang karena  lewat surat-suratnya memiliki arti penting bagi kedudukan wanita Indonesia. Salah satu prestasinya ditorehkan melalui buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. 
Hal ini juga yang mengilhami beberapa perempuan Indonesia untuk terus berjuang mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia. Siapa saja mereka?

3. Sri Mulyani Indrawati SE, MSc, Phd

Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D atau akrab disapa SMI atau Bu Ani ini merupakan permpuan kelahiran  Bandar Lampung, Lampung, 26 Agustus 1962. Prestainya tak bisa dipandang remeh karena menjadi wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. 

Jabatan ini diembannya mulai 1 Juni 2010 hingga dia dipanggil kembali oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro, dia mulai menjabat lagi sejak 27 Juli 2016. Sebelumnya, dia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. 
Ketika ia menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia maka ia pun meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan saat itu. Sebelum menjadi menteri keuangan, dia menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. 


BACA JUGA :

Sarat Prestasi, Inilah 'Kartini' Modern Kebanggaan Indonesia (1)

Fakta Menarik RA Kartini, Nama Museum di Jepara dan Jalan di Belanda

Mengenal Sosok Kartini, Sang Pahlawan Emansipasi Wanita

Sri Mulyani adalah anak ketujuh dari seorang dosen Prof. Satmoko dan Retno Sriningsih. Namanya bercorak bahasa Jawa dan berhuruf Sansekerta. Sri berarti sinar atau cahaya yang bersinar, yang merupakan nama yang umum bagi perempuan Jawa. Mulyani berasal dari kata mulya, juga berarti berharga. Indrawati berasal dari kata Indra and akhiran feminin -wati.

Sri Mulyani mendapatkan gelar dari Universitas Indonesia pada 1986, kemudian  memperoleh gelar Master dan Doctor di bidang ekonomi dari University Illinois at Urbana-Champaign pada 1992. Tahun 2001, ia pergi ke Atlanta, Georgia, untuk bekerja sebagai konsultan untuk USAID (US Agency for International Development) demi tugas untuk memperkuat otonomi di Indonesia. 

Dia juga mengajar dalam ekonomi Indonesia sebagai professor di Andrew Young School of Policy Studies di Georgia State University.[8] Dari tahun 2002 sampai 2004 ia menjabat sebagai direktur eksekutif IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara. Dia menikah dengan Tony Sumartono yang juga seorang ekonom dan kemudian mempunyai tiga anak.

Sri Mulyani sebelumnya dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi di Indonesia. Ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Dia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura.[2] Ia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008[3] dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.


4. Retno Lestari Priansari Marsudi

RETNO Dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 27 November 1962 dan dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri perempuan pertama Indonesia yang menjabat dari 27 Oktober 2014 dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Sebelumnya dia menjabat sebagai Duta besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Den Haag.

Dia menempuh pendidikan menengah atasnya di SMA Negeri 3 Semarang sebelum akhirnya memperoleh gelar S1nya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tahun 1985. Selanjutnya, meraih gelar S2 Hukum Uni Eropa di Haagse Hogeschool, Belanda.

Setelah lulus, ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Dari tahun 1997 hingga 2001, Retno menjabat sebagai sekretaris satu bidang ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda.[5] Pada tahun 2001, ia ditunjuk sebagai Direktur Eropa dan Amerika.[3] Retno dipromosikan menjadi Direktur Eropa Barat pada tahun 2003.[5]

Pada tahun 2005, diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia. Selama masa tugasnya, memperoleh penghargaan Order of Merit dari Raja Norwegia pada Desember 2011, menjadikannya orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan tersebut. Selain itu,sempat mendalami studi hak asasi manusia di Universitas Oslo. Sebelum masa baktinya selesai, Retno dikirim kembali ke Jakarta untuk menjadi Direktur Jenderal Eropa dan Amerika, yang bertanggung jawab mengawasi hubungan Indonesia dengan 82 negara di Eropa dan Amerika.

Retno kemudian dikirim sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda pada tahun 2012. Bahkan, pernah memimpin berbagai negosiasi multilateral dan konsultasi bilateral dengan Uni Eropa, ASEM (Asia-Europe Meeting) dan FEALAC (Forum for East Asia-Latin America Cooperation). Pada 2017, Retno mendapatkan penghargaan sebagai agen perubahan di bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan.

Penghargaan tersebut diberikan oleh UN Women dan Partnership Global Forum (PGF). UN Women adalah lembaga PBB yang bertugas memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Sementara PGF adalah lembaga non-profit yang bertujuan memajukan kemitraan inovatif bagi pembangunan. Penghargaan ini diserahkan oleh Asisten Sekretaris Jenderal PBB yang juga selaku Deputi Direktur Eksekutif UN Women Lakhsmi Puri pada acara jamuan makan siang di sela pelaksanaan Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di Markas Besar PBB, New York.

KELUARGA

Suami           : Agus Marsudi
Anak            : Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi

PENDIDIKAN
SD, Semarang, lulus
SMP, Semarang, lulus
SMA Negeri 3 Semarang, lulus
S1, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,1985.
S2, Hukum Uni Eropa di Haagse Hogeschool, Belanda

KARIER

Third Secretary Penerangan pada KBRI Canberra (1990 – 1994)
Counselor Ekonomi KBRI Den Haag (1997 – 2001)
Deputi Direktur Kerja Sama Ekonomi Multilateral (2001)
Direktur Kerja Sama Intra-Kawasan Amerika dan Eropa (2002 – 2003)
Direktur Eropa Barat ( 2003 – 2005)
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Eslandia, 2005-2008
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa pada Kementerian Luar Negeri RI, 2008 – 2012
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda (2012 – 2014)
Menteri Luar Negeri RI 2014-2019

PENGHARGAAN

Order of Merit (Grand Officer), bintang jasa tertinggi kedua di Norwegia, diberikan oleh Raja Norwegia, Desember 2011. Retno orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan tinggi tersebut. (*)