DIY Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 15 April 2019 / 07:07 WIB

Pemilu 2019, Noe Letto Ajak Pemilih Kritis di Pertempuran Gagasan


SLEMAN, KRJOGJA.com - Pemilihan Umum (Pemilu) adalah sebuah peristiwa budaya di mana dalam realita kekinian peristiwa tersebut adalah milik semua orang, tidak hanya satu atau dua golongan saja. 

Hal tersebut dikemukakan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang akrab disapa Noe Letto, di hadapan anak-anak muda Yogyakarta Minggu (14/4/2019). Noe mengungkap sedianya pemilu merupakan preferensi yang tidak boleh lebih tinggi dari nilai-nilai kebangsaan. 

Preferensi yang dimaksudkan Noe sama halnya seperti yang dituliskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai suatu hak untuk didahulukan dan diutamakan daripada yang lain.

"Sedangkan nilai yang dirumuskan di bangsa ini bersifat jangka panjang, bisa dirumuskan sebagai Pancasila juga. Artinya jangan sampai karena pemilu yang sifatnya jangka pendek, lima tahun, rumusan nilai itu melemah. Kita ribut terus padahal dasarnya suka atau tidak suka,” ungkap Noe. 

Pemilihan Presiden (Pilpres) dalam Pemilu 2019 yang menyisakan hari (17 April) meninggalkan banyak kekhawatiran pada punahnya nilai-nilai itu. Masyarakat terpecah menjadi dua golongan di mana keduanya saling ejek, baik di dunia maya maupun tatap muka. 

“Sebenarnya yang dibutuhkan adalah pertempuran gagasan, di mana masyarakat bisa memilih bukan karena ketokohan atau identitas tapi karena pikiran dan pemikirannya. Artinya tidak boleh ada bias kognitif, kita memilih karena gagasan calon, itu yang harus dipopuluerkan,” sambung putera Cak Nun ini. 

Noe bersama beberapa rekan menggagas sebuah aplikasi bernama Pantau Bersama yang selama tiga bulan terakhir bisa menjaring 10 ribu pengguna gadget. Aplikasi ini menjaring pertanyaan yang dituliskan dan disampaikan langsung ke kedua calon melalui tim sukses resmi masing-masing. 

Ada dua fitur dalam aplikasi, yaitu Tanya Kandidat dan Kata Kandidat, di Tanya Kandidat terdapat ratusan pertanyaan pengguna aplikasi ke kedua calon yang bakal dipilih 11 terbaik lalu diajukan dan dijawab oleh kedua calon. Pengguna aplikasi akan mendapat jawaban tiap minggu dengan meng-klik fitur Kata Kandidat. 

"Sejauh ini Pantau Bersama telah merangkul 10 ribu pengguna dengan sekitar 1000 pertanyaan yang diajukan ke kedua tim pemenangan. Memang masih jauh dari maksimal tapi ini ikhtiar kami, anak-anak muda yang melihat pemilu sebagai peristiwa budaya yang harusnya ada pertempuran ide dan gagasan di sana untuk para pemilih, bukan hal-hal negatif seperti sekarang ini. Aplikasi ini membuka sesuatu yang tidak mereka bayangkan sebelumnya,” tandas Noe. 

Di masa tenang saat ini, aplikasi Pantau Bersama masih bisa diakses namun tak mengirimkan pertanyaan ke dua tim pemenangan namun aplikasi ini akan terus berjalan sebagai medium mempopulerkan pertempuran gagasan mereka yang ada di panggung politik. 

"Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu khususnya ke dua tim pemenangan yang bersedia menjawab pertanyaan dari banyak pengguna aplikasi. Semoga saja bias kognitif lama-lama akan pudar dari kalangan anak muda, khususnya generasi Z,” lanjutnya. (Fxh)