DIY Editor : Agus Sigit Sabtu, 13 April 2019 / 12:10 WIB

Tambah Wawasan Mahasiswa, UAD Gandeng Ilmuwan NASA

BANTUL, KRJOGJA.com - Natural Science atau Sains Alam masih menjadi topik keilmuan yang jarang menjadi trending topic dalam perbincangan di media sosial. Terlebih dalam kaitannya dengan pilihan karir generasi muda. Namun, sejatinya harapan masyarakat agar Indonesia dapat menjadi negara maju harus diawali dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada bidang ini. Salah satu aspek yang bisa diandalkan untuk memperbaiki apresiasi masyarakat yaitu dengan memperbaiki kualitas pembelajaran sains. 

Demikian diungkapkan Yudhiakto Pramudya PhD, Kepala Pusat Studi Astronomi (PSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Ruang Observatorium, kampus 4 UAD, Ringroad Selatan, Tamanan Bantul, Jumat (12/04/2019) malam. Kegiatan dalam rangkaian perayaan Global Astronomy Mounth (GAM) 2019 juga diisi telekonferensi dengan penggiat Citizen Science dari Amerika Serikat Caroline Williams dari Chivago dan Caroline Juang dari NASA berbagi pengetahuan pada mahasiswa S1 dan S2 Pendidikan Fisika UAD. 

"Kegiatan GAM 2019 serentak diselenggarakan oleh institusi di seluruh penjuru dunia untuk mengapresiasi sains khususnya bidang Astronomi," ujarnya. 

Menurut Yudhiakto Pramudya, perbaikan kualitas pendidikan sains dapat terwujud dengan lebih cepat bila semakin banyak pihak yang terlibat aktif, misalnya pemegang kebijakan dan masyarakat itu sendiri. Seringkali masyarakat masih jarang dilibatkan dalam perkembangan sains. Sains masih diindetikkan dengan pekerjaan di laboratorium. Orang yang mengerjakan penelitian sains perlu mengenakan pakaian tertentu, mempunyai kualifikasi pendidikan yang tinggi, menggunakan peralatan pengukuran yang rumit dan berteknologi tinggi.

Dalam pandangan Yudhiakto Pramudya, keterlibatan masyarakat ini menjadi fokus kegiatan Citizen Science. Sebuah kegiatan yang melibatkan masyarakat atau publik untuk membantu ilmuwan dalam mengumpulkan data bahkan melakukan analisis awal tentang adanya fenomena alam. Citizen Science ini telah berkembang pesat di Amerika Serikat.

Khusus di UAD, perayaan GAM 2019 ini dibantu oleh kelompok studi Andromeda Pendidikan Fisika dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Fisika. Caroline Juang mempresentasikan teknologi satelit NASA yang digunakan untuk pemantauan tanah longsor. Citra satelit yang diperoleh memerlukan bantuan masyarakat untuk memantau lereng bukit yang mempunyai potensi longsor. Hal ini sangat dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia yang sering mengalami bencana hidrometeorologis yang diantaranya banjir dan tanah longsor. 

Caroline Williams bercerita tentang peran masyarakat dalam pengumpulan data melalui website Zooniverse. Terdapat banyak project yang bisa diikuti oleh masyarakat di Zooniverse. Tidak hanya berkaitan dengan astronomi dan fisika, namun juga banyak hal berkaitan dengan lingkungan hidup. 

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Pendidikan Fisika dapat mempunyai wawasan lebih luas dalam implementasi pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah. Sekaligus juga melatih kemampuan untuk berkolaborasi dan menggunakan teknologi pada Revolusi Industri 4.0. Kegiatan ini juga berpotensi untuk dilaksanakan secara berkelanjutan karena mampu menjembatani ilmuwan dengan mahasiswa dan masyarakat meskipun terpisah jarak dan waktu yang jauh. "Gairah masyarakat untuk mengapreasiasi sains semakin tinggi yang pada akhirnya dapat membawa Indonesia menjadi negara maju." tandas Yudhiakto Pramudya. (Jay)