DIY Editor : Agus Sigit Jumat, 12 April 2019 / 18:45 WIB

Pohon Pule, Si Eksotis yang Tak Mudah Rontok

POHON pule yang tumbuh liar di alam dapat diboyong dan ditanam di berbagai tempat sebagai perindang. Ada pula yang suka membonsai pule. Pohon perindang jenis tanaman pule antara lain dapat ditemukan di lokasi kuliner, hotel, perkantoran maupun kompleks tempat tinggal.

Kakak-beradik penggemar dan pemburu pule Lilik Kurniawan N dan Imam NH sudah memiliki belasan pule. Sebagian ada di pekarangan tempat tinggalnya maupun di calon lokasi kulinernya. Selain itu ada belasan pohon lagi masih di Gunungkidul dan Kulonprogo yang masih berada di tanah pemiliknya atau belum didongkel. Tanaman ini mempunyai karakter unik antara lain bagian akar, batang serta daun-daunnya.

“Sebagian penggemar tanaman suka dengan pule seperti dijadikan bonsai, untuk mempercantik taman sampai sebagai perindang yang eksotis,” ungkap Lilik, Jumat (12/4/2019).

Warga Brongkol Godean Sleman ini menjelaskan, pohon pule yang sudah besar dapat ditebang dan disisakan bagian bawah (bonggol bersama akar-akarnya). Kayunya di kawasan Gunungkidul dijadikan bahan baku kerajinan, misalnya aneka topeng kayu. Sedangkan bagian bawah batang beserta akar didongkel dan bisa ditanam lagi. Akar tunggangnya dipotong, sehingga ketika ditanam lagi  lebih banyak akar serabut saja.

Tanaman ini akan mudah hidup, bahkan saat akan dipindah tanpa ada satu daun pun, kisaran dua sampai tiga minggu bisa muncul dahan/ranting dengan daun-daunnya. Ada baiknya juga bagian atas batang yang dipotong ditutup plastik untuk mengurangi penguapan. Selain itu rutin disirami, sehingga kelembaban tanah terjaga. Jika sudah hidup dengan baik dapat diberi pupuk, sehingga mendukung kesuburan tanaman.

“Daun-daun pule tak mudah kering dan jatuh, sebab hijaunya atau awetnya daun di pohon bisa sekitar satu bulan. Jadi sebagai tanaman perindang tak cepat mengotori tanah,” tegasnya.

Imam menambahkan, jual-beli pohon pule pun kian semarak. Terutama di daerah Gunungkidul dan Kulonprogo masih mudah ditemukan jenis pohon ini. Ada pula di beberapa tempat lain yang masih hidup liar. Ketika sudah dijualbelikan, harga dipengaruhi beberapa faktor, antara lain ukuran tanaman, karakter akar/batang atau tampilan pohon. Jika sudah berada di tempat penjualan tanaman hias, harga biasa lebih mahal.

“Sampai saat ini, kami masih sebatas senang. Sebagian pule sudah kami tanam di calon lokasi kuliner ayam penyet yang akan kami buka Ramadan tahun ini. Daun-daunnya belum banyak, nanti pas kami buka kuliner, semoga daun-daunnya sudah bisa banyak,” urainya. (Yan)