DIY Editor : Agus Sigit Jumat, 12 April 2019 / 17:46 WIB

TINGGI, KASUS PERUNDUNGAN DI INDONESIA

Sistem Pendidikan Harus Memunculkan Rasa Empati

YOGYA, KRJOGJA.com - Kasus perundungan (bullying) pada anak usia remaja di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Data Plan International menyebutkan 84 persen anak di Indonesia berpotensi mengalami kekerasan. 

"Untuk mencegah perundungan, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan secara individual tapi harus diperbaiki sistemnya," terang Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal PhD kepada KRJOGJA.com disela acara Rapat Kerja Bidang Pendidikan Madrasah di Hotel Cavinton Yogyakarta, Kamis (11/2/2019).

Menurut Nur Rizal, sistem pendidikan di Indonesia belum mampu membentuk anak-anak yang punya kemampuan mengendalikan diri. Selain itu sistem pendidikan Indonesia belum mampu menajamkan pikiran sekaligus memuncukan rasa empati anak. "Sistem pendidikan di Indonesia baik sekolah maupun madrasah lupa mengasah batin, menajamkan pikiran dan menghaluskan perasaan siswa, tapi sibuk menyelesaikan materi kurikulum yang terlalu berat," ujarnya.

Dijelaskan Nur Rizal, materi kurikulum pendidikan di Indonesia sekitar 1.094 jam dalam sebulan, itu lebih tinggi dari materi kurikulum sekolah yang ada di negara Jepang, Australia dan Eropa. Meskipun materi kurikulumnya sangat banyak dan berat, tapi nilai Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2015 berada di peringkat nomor 62 dari 70 negara. "Itu membuktikan bahwa materi dan ujian yang sangat banyak tidak membuat anak-anak kita semakin pintar, kritis dan mampu mengolah rasa dan batinnya," ujarnya.

Beban pelajaran yang sangat berat dialami oleh anak-anak di Indonesia, menurut Nur Rizal akan merusak bagian otak yang namanya prefrontal cortex di neocortex yang berfungsi membuat keputusan strategis, mengolah batin, empati, kepekaan dan menajamkan intelektual. Karena tidak adanya ruang mengolah rasa dan kepekaan tersebut disebabkan habis untuk mengerjakan materi kurikulum, maka anak-anak akan melampiaskan emosinya di luar sekolah. Pelampiasannya bisa tawuran, narkoba atau rokok. 
 
"Sistem pendidikan nasional kita harus dirombak. Gerakan Sekolah Menyenangkan bisa menjawab kebutuhan tersebut dengan pendidikan berbasis literasi manusia yang berfokus pada pengembangan manusia secara holistik tak terbatas pada kualitas akademik," pungkasnya. (Dev)