Jateng Editor : Danar Widiyanto Rabu, 10 April 2019 / 15:50 WIB

'Beraksi' di Malam Hari, Ini Senjata Rahasia Petani Nogosari

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Burung hantu menjadi andalan petani di Desa Jeron, Kecamatan Nogosari, untuk membasmi hama tikus. Dengan tingkat keberhasilan tinggi, metode tersebut terus dikembangkan, diantaranya dengan membuat peraturan desa untuk perlindungan satwa, terutama burung hantu. 

Kepala Desa Jeron, Joko Supono menjelaskan, metode pembasmian hama tersebut dicontoh dari petani di Demak, dimana petani membuat sarang atau rumah burung hantu di areal persawahan. Adanya sarang tersebut akan membuat sawah menjadi habitat dan ekosistem dimana burung hantu akan mencari mangsanya, yakni tikus. Empat bulan lalu, metode pembasmian hama secara alami tersebut diterapkan. 

Awalnya, pihak desa menggelontorkan dana sebesar Rp 10 juta yang diberikan ke kelompok tani untuk membuat 10 sarang burung hantu. Seiring waktu berjalan, saat ini sudah ada 60 sarang burung hantu di areal persawahan di Desa Jeron. Hasilnya memuaskan. Populasi hama tikus bisa ditekan. 

"Dari APBDes kita akan kandang besar dan lokasi karantina untuk pembibitan burung hantu agar populasinya bertambah," jelasnya. 

Tak sebatas itu, pihak desa juga berancang-ancang membuat peraturan desa untuk melindungi keberadaan satwa dari perburuan, terutama utnuk burung hantu. Hal itu diperlukan agar populasinya tetap terjaga. 

Kepala Dinas Pertanian Boyolali, Bambang Jiyanto, mengapresiasi metode tersebut. Selain efektif, pembasmian hama dengan memberbanyak populasi predator hama ini juga tak merepotkan petani, sebab mengandalkan cara kerja alam dalam menjaga keseimbangannya, yakni rantai makanan. 

Melihat keberhasilannya, ia pun akan mengembangkan metode pesmbasmian hama serupa di areal pertanian lain di wilayah Boyolali.

"Petani di sini sangat inovatif, karena mengandalkan musuh alami tikua untuk membasmi tikus. Nanti kita perluas metode ini di wilayah lain," pungkasnya. (Gal)