Jateng Editor : Agus Sigit Selasa, 09 April 2019 / 14:35 WIB

Nyadran di Boyolali Bakal Digelar Serentak

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Tradisi Nyadran masyarakat di Lereng Merapi-Merbabu, akan dilakukan secara serentak mulai tahun ini. Diharapkan kedepan, tradisi ini bisa menjadi daya tarik wisata di Boyolali.

Tradisi yang biasanya dilakukan saat pertengahan Bulan Ruwah, bulan dalam penanggalan Jawa sebelum bulan Ramadhan, merupakan hari besar yang berkaitan erat dengan aspek spriritual bagi masyarakat jawa yang masih mengamininya. Dalam ritualnya, masyarakat desa akan melakukan ziarah kubur, mendoakan arwah leluhur, dan menyantap makanan bersama-sama. 

Saat Nyadran, warga desa yang sudah jauh merantau pun akan pulang kampung. Waktu-waktu tersebut seperti suasana lebaran. Tiap rumah menyediakan makan minum yang bebas disantap tamu yang bersilaturahmi.

Camat Cepogo, Insan Adi Asmono, Selasa (9/4) menjelaskan, bila biasanya Nyadran dilakukan berbeda waktu di tiap desa, untuk tahun ini di wilayah Cepogo akan dilakukan secara serentak di 15 desa, diawali dengan Grebeg Nyadran, yakni kirab dan kenduri gunungan hasil bumi. Kirab ini akan dilakukan pada Minggu (14/4) besok. "Selain hasil bumi, tenong, yakni wadah makanan berisi makanan khas setempat juga akan dikirab. Tenong ini menjadi ciri khas Nyadran di wilayah ini," katanya.

Rinciannya, ada tujuh gunungan hasil bumi, tujuh gunungan makanan lokal, 45 tumpeng, dan 315 tenong yang akan dikirab dan didoakan di sekitar kantor Kecamatan yang menjadi lokasi grebeg. Arak-arakan akan dikawal masyarakat dengan kostum tradisional serta dua bregodo prajuritc Pesanggrahan Paras, lengkap dengan senjata dan korp musiknya.

"Nanti gunungan, tenong, dan seluruh isinya akan disantap bersama-sama," katanya.

Dengan penataan waktu dan pelaksanaan Nyadran ini, pihaknya berharap selain untuk melestarikan tradisi, agenda tersebut bisa menjadi salah satu data tarik wisata di Cepogo yang selama ini terkenal dengan hasil bumi dan pertaniannya. Dengan pelaksanaan secara serentak, Nyadran bisa masuk dalam kalender wisata Boyolali, sehingga bisa menarik wisatawan untuk datang dan mengenal lebih dekat kekayaan tradisi dan budaya mastarakat di Lereng Merbabu-Merapi tersebut. (Gal)

Foto: Galih Prasojo