Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 09 April 2019 / 09:25 WIB

Badan Bahasa dan Perbukuan Latih Instruktur Nasional, Ini Maksudnya

JAKARTA, KRJOGJA.com - Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional, di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat Senin (8/4 2019).

Kegiatan ini diikuti 120 orang peserta, terdiri atas guru, pegiat literasi, dan penyuluh bahasa yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia. 
Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional ini dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar. 

"Pemerintah mempunyai peran penting dalam upaya membangun pendidikan karakter bangsa. Oleh karena itu, Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat harus ikut ambil bagian dalam Gerakan Literasi Nasional untuk menciptakan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berorientasi pada penumbuhan budi pekerti," disampaikan Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar.

Sejalan dengan itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 4 ayat (5) menyatakan, bahwa upaya mencerdaskan bangsa dilakukan melalui pengembangan budaya baca, tulis, dan hitung bagi segenap warga masyarakat. Dalam rangka itu pula, pada tanggal 18 Agustus 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan suatu gerakan penumbuhan budaya baca-tulis yang bertajuk “Gerakan Literasi Sekolah” dengan tema “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti”. Gerakan ini merupakan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Peraturan ini menginisiasi kegiatan membaca bagi siswa selama lima belas menit sebelum masuk ke kegiatan belajar-mengajar. Hal ini merupakan bagian penting dari permulaan penumbuhan budaya literasi. 

Adapun salah satu kegiatan yang mendukung penumbuhan budaya literasi adalah kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis. Kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis ini secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap, yaitu (1) Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional (diikuti oleh 120 peserta), (2) Bimbingan Teknis Fasilitator Literasi Baca-Tulis Tingkat Regional (diikuti 480 peserta yang terbagi dalam enam regional), dan (3) Praktik Baik Berliterasi Baca-Tulis (dilaksanakan secara masif oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra dan 30 Balai/Kantor Bahasa di daerah). 

"Jadi, kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang akan dilaksanakan selama tujuh hari ke depan ini merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud," kata Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Gufran Ali Ibrahim.

Kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional ini melibatkan beberapa praktisi, akademisi, dan tokoh literasi, seperti Marsudi Wahyu Kisworo, Emi Emilia, Krisanjaya, Bambang Trimansyah, Habiburrahman El Shirazy, Firman Venayaksa, Gol A Gong, Wien Muldian, dan Billy Antoro. Dari 120 orang peserta Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional ini akan dipilih 30 peserta terbaik untuk melatih para fasilitator literasi baca-tulis di enam regional, yaitu regional Sumatra, regional Kalimantan, regional Jawa, regional Bali-NTT-NTB, regional Sulawesi-Maluku, dan regional Papua. (Ati)