Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 07 April 2019 / 13:51 WIB

SBY Kritik Kampanye Prabowo, Begini Alasannya


JAKARTA, KRJOGJA.com - Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Presiden Keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegur secara terbuka calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Teguran ini tak terlepas kampanye akbar yang dilakukan pasangan nomor urut 02 itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (07/04/2019). 

SBY memandang kampanye yang tak lazim dan ekskusif yang dilakukan Prabowo-Sandi dinilai berbahaya. Sebab akan menguatkan polarisasi yang sudah tercipta di tengah masyarakat.  "Cegah demonstrasi apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim,' ujar SBY lewat surat tertulisnya.

Menurut SBY, pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, dan pemimpin untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan semangat itu maka SBY meminta agar kampanye yang dilakukan juga mencerminkan semangat kebangsaan yang majemuk. 

"Sejak awal set up nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap Semua Untuk Semua , atau All For All. Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insya Allah akan berhasil," kata SBY. 

Presiden Keenam Indonesia ini juga mengkritisi gaya kampanye yang eksklusif adalah blunder yang menunjukkan kerapuhan seorang pemimpin. "Pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal "kawan dan lawan" untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa," tegas SBY

Dia berharap tak ada capres yang punya jiwa gemar mengadu rakyatnya sendiri. "Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo," ujar SBY. 

SBY mengaku selama menjadi mantan capres maupun mantan Presiden, tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai "pro Pancasila dan pro kilafah. Dengan polarisasi yang dibangun seperti itu, SBY khawatir terjadi konflik yang berkepanjangan di kalangan rakyat. (Fon)