DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 06 April 2019 / 13:34 WIB

Pegiat Medsos Yogya Diajak Selami Profesi Jurnalis

YOGYA, KRJOGJA.com - Sedikitnya 60 penggiat media sosial dari berbagai komunitas di Yogyakarta mengikuti pelatihan jurnalistik anti hoax di Hotel Ruba Graha, Jalan Mangkuyudan Yogyakarta, Sabtu (06/04/2019). Para pegiat media sosial diajak menyelami lebih dalam profesi jurnalis agar tak terjebak dalam situasi bernama hoax.

Panitia Penyelenggara, Ja’faruddin mengungkap acara digelar sebagai respon atas maraknya peredaran berita hoax yang memicu konflik sosial jelang Pemilu 2019. Masyarakat menurut dia justru lebih mempercayai informasi di media sosial dari sumber yang tidak jelas.

Bahkan tak sedikit yang beranggapan semua orang bisa menjadi wartawan dengan hanya menyebarkan informasi baik berupa tulisan, foto maupun video dalam sosial media. “Masyarakat awam banyak yang tidak sadar bahwa ungkapan setiap orang bisa jadi wartawan itu adalah hoax. Kalau semua orang bisa jadi wartawan otomatis tak berlaku itu UU Pers. Bukankah Indonesia adalah negara hukum? Dan bukankah UU Pers adalah produk hukum negara,” ungkapnya.

Di era media sosial, banyak netizen yang belum memahami beda sosial media dengan official web dan media massa online. Banyak yang kemudian tidak mengerti mana opini sebagai karya jurnalistik dan opini yang hanya luapan emosi seseorang di sosial media.

“Opini disebut karya jurnalistik jika dimuat di media massa atau pers. Karena ketika dimuat dimedia massa tentu media massa terikat dengan UUD Pers, terikat dengan kode etik jurnalistik, ada proses verifikasi. Kalau di sosial media kan nggak ada. Ini diantaranya yang menyebakan hoax dan post truth. Ini sangat bahaya, sama saja hendak menghilangkan kepercayaan publik kepada pers yang merupakan pilar ke 4 demokrasi,” sambungnya.

Hal inilah yang lantas mendasari penyelenggara untuk membuat acara pelatihan jurnalistik pada para pegiat media sosial tersebut. “Pada dasarnya, jika seseorang meski bukan wartawan mampu memberikan informasi menggunakan kaidah jurnalistik maka kecenderungannya tidak hoax, ini output yang kita harapkan dari kegiatan ini,” lanjutnya.

Beberapa narasumber seperti Anang Zakaria, Ketua AJI DIY, Hudono, Wakil Ketua Bidang Hukum PWI DIY, Teguh Supriyadi, Jurnalis CNN Indonesia dan W Pamungkas Dekan Media Rekam ISI Yogyakarta dihadirkan untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh pada para peserta. Berbagai pengalaman menarik pun disampaikan yang membuka pemahaman menyeluruh para peserta.

W Pamungkas yang juga fotografer mantan Ketua PFI Yogyakarta misalnya, mengingatkan para peserta untuk melengkapi foto yang dijepret tentang suatu kejadian dengan data 5 W dan 1 H. Selain itu, share foto atau video yang belum jelas sumbernya juga mengundang tersebarnya berita hoax.

“Ini untuk mencegah foto kita dimanfaatkan orang lain untuk hal negatif. Misalnya foto anak presiden Jokowi, pakai kaos hitam tapi diedit dengan lambang palu arit. Ini kah bahaya sekali bila misalnya pemilik foto tak melengkapi foto itu dengan keterangan yang sesuai kejadian sebenarnya. Atau foto biksu yang berdiri di antara jenazah korban bencana alam. Karena sentimen tertentu diubah seakan-akan para biksu yang membunuh. Ini kita bisa cegah dengan memastikan apa yang kita sebarkan sebelumnya,” ungkap Pamungkas.

Sementara Anang Zakaria sempat menceritakan bagaimana sebuah negara seperti Irak hancur karena bermula dari informasi hoax yang dihembuskan pihak tertentu. Hoax menjadi hal menakutkan yang harus berusaha dicegah bersama.

“Penyebab invasi Amerika ke Irak karena informasi hoax adanya senjata pemusnah massal, padahal ternyata tidak ada. Saat ini di Indonesia kondisinya, ada informasi salah tapi orang tak tahu informasi itu salah, ada juga yang tahu salah tapi tetap menyebarkannya. Jangan sampai gara-gara berita hoax kita hancur ya,” tandas dia. (Fxh)