DIY Editor : Agus Sigit Sabtu, 06 April 2019 / 05:48 WIB

Kasus Kriminal Libatkan Anak di Yogya Tinggi, Penyebabnya Ternyata Sepele

YOGYA, KRJOGJA.com - Kasus yang melibatkan anak di bawah umur di Yogya tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Sementara pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut mayoritas perkara klithih. Faktor terjadinya klithih karena anak kurang mendapat perhatian orang tua. 

Anggota Pokja Perempuan dan Anak Mahkamah Agung Albertina SH mengatakan, berdasarkan data yang ada, jumlah kasus anak-anak yang masuk ke pengadilan sekitar 48 perkara. Sementara di daerah lainnya, jumlah berkisar 12 perkara saja. "Kami menilai, kasus anak-anak yang sampai di tingkat pengadilan tergolong tinggi. Kalau daerah lain tidak sebesar itu," kata Albertina saat monitor dan evaluasi Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogya, Jumat (5/4).

Meskipun demikian, penyelesaian perkara anak di Yogya, khusunya di Pengadilan Negeri Sleman sudah cukup bagus. Hanya ada beberapa yang perlu perbaikan. Mengingat penanganan SPPA terpadu mulai dari penyidik, Bapas dan hakim . "Penanganan perkara di Yogya sudah luar biasa. Hal ini tak lepas adanya peran serta dari pemda setempat," tuturnya. 

Albertina saat monitoring di Bapas Kelas I Yogya. Foto: Saifullah Nur Ichwan 

Kepala Bapas Kelas I Yogya Mohammad Ali Syeh Banna BcIP SSos MSi menambahkan, selama tahun 2018, Bapas Kelas I Yogya menangani 229 kasus anak yang berada di Kota Yogya, Sleman dan Wates. Dengan rincian, diversi kembali ke orang tua 103 perkara, bebas demi hukum 1, pidana dalam lembaga BPRSR 58, pidana dengan pengawasan 45 dan penjara 20 anak.

"Dari perkara yang ditangani itu, mayoritas kasus klithih. Berdasarkan penyelidikan di masyarakat, pelaku ini melakukan klithih karena kurang mendapat perhatian dari keluarga," kata Ali Syeh. (Sni)