DIY Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 05 April 2019 / 17:41 WIB

TEATER GANDRIK DI TBY

'KPK' Wajibkan SKKB Bagi Pensiunan

YOGYA, KRJOGJA.com - Teater Gandrik kembali menyapa penonton seni dengan melakukan pementasan pertunjukan bertajuk 'Para Pensiunan 2019' pada Senin-Selasa (08-09/04/2019) di Taman Budaya Yogyakarta dan Kamis-Jumat (25-26/04/2019) di Artpreneur Theater, Jakarta. 

"Para pensiunan 2049 ini berkisah tentang masa depan. Jadi ada para pensiunan yang ingin menikmati masa tuanya dan menunggu akhir hidupnya dengan tenang. Kehidupan para pensiun menjadi gelisah ketika Komisi Pertimbangan Kematian (KPK) mengharuskan semua orang yang mati wajib memiliki Surat Keterangan Kematian Yang Baik (SKKB). Jadi ini berlaku untuk para koruptor agar jera," tutur sang Sutradara G. Djaduk Ferianto saat jumpa pers, Jum'at (05/04/19). 

Menurut Djaduk jika para pensiunan tidak memiliki SKKB ketika meninggal nanti, maka mayatnya tidak boleh dikubur karena tidak bersih dari korupsi. "Karena mayatnya tidak boleh dikubur karena tidak ada SKKB ini, jadi lakon sedikit dibuat horor supaya makin greget mau dikemanakan jenazah ini. Ini yang membuat cerita ini haru dan lucu," tambah Sutradara.

Dalam naskah, kata Djaduk ada peran dimana satu pensiunan itu terlanjut mati tanpa memiliki SKKB. Akibatnya jenasahnya terlunta-lunta nasibnya. Akhirnya, para pensiunan menjadi gelisah dan masing-masing ingin memiliki surat SKKB sebagai bukti mereka bersih dari korupsi.  "Cerita ini tidak menceritakan kehidupan Di Indonesia, melainkan di Negeri antrah berantah yang diambil dari semua potret kehidupan manusia. Tapi kalau pas nonton ada yang merasa ini sindiran itu balik lagi sama yang nontonya ya," ucapnya.

Djaduk menambahkan naskah yang akan menghibur para penonton nanti sebenarnya berulang kali mendapat bongkar pasang alur cerita. Hal tersebut agar tidak ada pihak yang terprovokasi sehingga aman untuk semuanya. "Padahal seharusnya, pementasan ini sudah digelar pada bulan Februari kemarin, tapi naskah masih dibongkar pasang," katanya.

Djaduk menjelaskan selain berkendala karena naskah yang harus berulang kali direvisi, masalah managemen latihan juga sudah tidak se efektif teater sebelum-sebelumnya. Walaupun begitu, pihaknya menyampaikan rasa kegembiraanya karena akan menghibur lagi. "Ketika kami bisa bersama-sama lagi dalam satu panggung, istilahnya ini adalah kemewahan ya karena terakhir kami pentas pada tahun 2017," pungkasnya. (Ive)