Peristiwa Editor : Ivan Aditya Kamis, 04 April 2019 / 18:36 WIB

Rupiah Menguat Tipis, Rp 14.182 per Dolar Amerika

JAKARTA, KRJOGJA.com - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.182 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (04/04/2019) sore. Dengan demikian, rupiah menguat 0,28 persen terhadap dolar AS dibandingkan Selasa (02/04/2019) di angka Rp14.223 per dolar AS.

Sementara itu kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menempatkan rupiah di posisi Rp14.182 per dolar AS atau menguat dari posisi Selasa yakni Rp14.237 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah diperdagangkan di rentang Rp14.180 hingga Rp14.192 per dolar AS.

Hari ini, hanya segelintir mata uang utama Asia yang menguat terhadap dolar AS. Hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen dan yen Jepang menguat 0,07 persen. Sementara itu, mata uang lainnya melemah terhadap dolar AS.

Dolar Singapura melemah 0,03 persen, yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,12 persen, won Korea Selatan melemah 0,16 persen, peso Filipina melemah 0,19 persen, dan rupee India sebesar 0,79 persen. Kemudian, pergerakan mata uang negara maju juga terbilang bervariasi.

Dolar Australia melemah 0,09 persen, poundsterling Inggris menguat 0,01 persen, dan euro tidak menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal.

Dari sisi internal, pelaku pasar masih percaya dengan Indonesia seiring fundamental yang baik. Ini terlihat dari data inflasi Maret 2,48 persen atau turun dari Februari 2,57 persen. Kemudian, indeks manufaktur Indonesia Maret ada di posisi 51,2 atau naik dari Februari 49,9.

Tak heran, aliran modal masuk sedang deras ke Indonesia. Hal ini, lanjut dia, bisa terlihat dari pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Pada hari ini, imbal hasil SBN bertenor 10 tahun turun 0,9 basis poin.

Penurunan imbal hasil merupakan indikasi bahwa harga obligasi sedang meningkat. Harga obligasi yang meningkat juga merupakan tanda bahwa permintaan terhadap SBN sedang tinggi. Karena yield yang turun adalah SBN bertenor panjang, artinya pelaku pasar optimistis dengan ekonomi Indonesia. (*)